Indosasters

Home » 2017

Yearly Archives: 2017

Selamat Jalan Yulius Nakmofa – Aktivis PRBBK Indonesia

Yulius Nakmofa [Sumber Gambar: Dr Merry Kolimon]

Yulius Nakmofa [Sumber Gambar: Dr Merry Kolimon]

Bersama Yulius Nakmofa dan Alex Ofong, kami berangkat ke Palu suatu waktu di pertengahan tahun 2003. Perjalanan ini bagian pertama dari serial training community-based disaster management [ #CBDRR #PRBBK ] yang disponsori Yayasan Pikul dan PMPB Kupang di Indonesia Timur termasuk Kalimantan dan Sulawesi. Di Palu, kami di fasilitasi rekan-rekan LPS-HAM Palu.

Tapi ada yang mengganjal di hati Yus Nakmofa. Katanya: “mati katong, Palu ini sarang aktivis LSM yang kemampuan fasilitasinya di atas rata-rata. Karmana katong (bagaimana kita) bisa tunjukan kalau katong (kita) bisa fasilitasi secara partisipatif?” Salah satu pentolan aktivis Palu yang dikenal Yus dan kaliber dalam proses-proses fasilitasi komunitas dan LSM adalah Chalid Muhamad (mantan direktur eksekutif JATAMNAS dan WALHI), yang juga pendiri Yayasan Pikul dan mengambil peran ketua Board Yayasan Pikul era paska reformasi. Yus dan Alex sering melihat kualitas fasilitasi Chalid dari jarak dekat. Kualitas Chalid menjadi semacam terror bagi aktivis-aktivis yunior.

Sebenarnya ada hal tak terlihat yang lebih menghantui Yus. Bagi Yus, aktivis-aktivis Palu lebih kritis secara ideologis. Sedangkan di NTT, saat itu, mungkin lebih pragmatis. Tentu kita ingat bagaimana para aktivis dari suatu kota mencoba mengirimkan celana dalam sebagai simbol kritik pada aktivis kampus NTT yang tak mampu berdemo secara memadai di tahun 1998. Reputasi aktivis mahasiswa Kota Kupang tentu lebih tercoreng lagi dengan demo sektarian yang berujung pada konflik sektarian tahun 1998. Di arena aktivis LSM NTT pun memang sangat sedikit yang terbiasa dengan narasi-narasi kritis a la kiri yang biasanya menginspirasi perlawanan terhadap ketidakadilan social dan watak predator negara. Bukan karena tidak mampu secara textual. Secara textual, hitung saja mantan-mantan seminari yang belajar filsafat dari Seminari level SMP hingga perguruan tinggi yang membanjiri sektor LSM. Ini soal jejak langkah aktivis yang bertransformasi dari LSM generasi pertama (model Sinterklas) ke generasi ketiga (model advokasi kritis). Pasifikasi melalui text kitab suci menjadi pelengkap kegagapan aktivis daerah kering ini.

Kembali ke Yulius Nakmofa, tanpa bicara kiri atau kanan, ia adalah salah satu aktivis tipe pekerja. Orientasi ke bawah, ke komunitas, di jalaninya secara konsisten selama 25 tahun. Dalam dua puluh tahun terakhir, dia salah satu yang paling konsisten di dalam gerakan membangun ketahanan komunitas-komunitas marginal terhadap bencana. Ia juga menjadi guru dengan melatih aktivis-aktivis dan rekan-rekan Pemda mulai dari NTT hingga Aceh, Sulawesi, NTB dan sebagainya.

Memulai karirnya sebagai fasilitator IDT (Inpres Desa Tertinggal), program pengentasan kemiskinan Orde Baru yang dirancang 1992 dan on road sejak 1994. Yulius pernah tinggal 3 tahun di Besikama dan beberapa desa dan menyaksikan bagaimana investasi-investasi pembangunan sering hancur karena banjir. Yus memang jenaka sehingga anda mungkin saja gagal focus pada pengetahuannya yang dalam tetapi sering kurang artikulatif dan dibungkus dalam humor-humor, mati ketawa ala Jus Nakmofa.

Tiga hal yang belum saya selesaikan dengan Yus: 1 memberikan kado artikel jurnal internasional yang kami tulis bersama (sudah diterima dengan status revisi); 2 menuliskan biografinya dan 3, bertemu muka di Natal 2017 ini untuk menyelesaikan perang dingin dengannya dalam 7 tahun ini. Karena orientasi ke komunitas dan lapangan, PMPB Kupang memang kemudian punya visi yang tidak ekspansif dalam skala yang lebih luas. Visi Yus adalah menjadikan aktivis-aktivis PMPB Kupang menjadi pekerja lapangan. Sedangkan visi saya adalah melatih staf-staf PMPB dan mendorong mereka belajar setinggi mungkin untuk menjadi tangguh yang bisa kerja di mana saja di planet ini. Karena tidak seperti yang dikonstruksi aktivis-aktivis di pusat kekuasaan dan pusaran uang bencana di tanah Jawa. Rekan-rekan di PMPB Kupang (sebelumnya FKPB) sejak tahun 1998/1999 sudah ikut kursus community-based disaster management di Bangkok dan Manila.

Kembali ke cerita pelatihan di Palu. Di akhir training, para peserta memberikan nilai A++ kepada kami bertiga. Saya termasuk yang optimis. Sebagai gelandang, saya percaya pada kekuatan Yus dalam pendekatan partisipatf dan mampu membuat suasana kelas rilex. Di desa-desa yang pernah kami datangi bersama baik di Timor, Alor maupun Flores, Yus mampu menunjukan pada yunior-yuniornya bahwa dengan sumber daya terbatas, batu kayu dan daun, proses fasilitasi tetapi bisa lancar bahkan powerful dalam menfasilitasi pemahaman soal risiko, soal bencana, soal penghidupan. Gesture-nya di lapangan begitu halus dan alamiah. Ilustrasi-ilustrasi dan humornya membuat pengetahuan teknis lebih gampang dikunyah peserta. Menggabungkan kekuatan Alex Ofong, jebolan filsafat Ledalero terbaik di angkatannya membuat hidup lebih baik. Saya selalu berharap kami bertiga bisa tetap menjadi pelatih dalam tim yang sama. Ibarat Trio Barcelona  (Neymar Messi Suarez) atau Real Madrid (Ronaldo Bale Benzema). Sayang, itu menjadi kesempatan yang pertama dan terakhir kami bertiga berada dalam tim kepelatihan yang sama.

Bro Yus, kamu pergi terlalu cepat. Selamat Jalan. Tenang dalam keabadian. Nama dan jasamu tetap dikenang!

***

Catatan: PRBBK = Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas

Disaster Governance

Recent use of the term “disaster governance” has been simply meant ‘disaster management’. When i started my PhD on #disastergovernance back in 2007, no one defined what the term really meant. This led me to wrote an entry to an encyclopedia in 2010 [See disaster governance at Sage] as well as my PhD in 2011 [#disastergovernance]

In August 2007, Google hints were only 10 [See picture below] Some of the early documents using this term include UNDP’s Report 2004 [Reducing Disaster Risk, A Challenge for Development] and Dr Thea Hilhorst (Wageningen University). But the earliest should be dedicated to Peter J May. May’s work [see Environmental Management and Governance: Intergovernmental Approaches to Hazards and Sustainability (London and New York: Routledge Press, 1996].

disaster governance

Google Search on Disaster Governance 2007-2010

Being Mortal – Memilih Terminal Terakhir

9781846685828-e1507450842580.jpg

Kita memang tidak pernah memilih tempat lahir! Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita lahir. Bagi yang melahirkan maupun yang dilahirkan sama-sama seperti menang lotre ataupun kalah judi. Yang membuat semuanya lebih baik adalah cinta. Dan artikel ini memang bukan tentang cinta. Tetapi tentang terminal terakhir hidup anda: di mana anda ingin hidup anda berakhir? Rumah sakit? atau rumah sendiri? Setidaknya tentang pilihan ini, kita bisa sebisa mungkin melawan takdir – bukan soal harus matinya, tetapi soal memilih mati di mana.

Membaca Atul Gawande dalam Being Mortal – Medicine and What Matters in the End, membawa kita bertanya soal the geographies of dying dan pelembagaan fase sekarat dalam hidup manusia. Membayangkan evolusi pelembagaan kematian dan proses-prosesnya. Dari tradisi ratapan dengan paduan tangisan ala Mollo di Timor, hingga proses ritual yang mirip dengan jejeran orang-orang antri menuju terminal akhir dari hidup ini. Buku ini wajib di baca mahasiswa kedokteran.

Entah mengapa, terminal itu bernama rumah sakit. Di sana, tiga elemen utama bekerja: kedokteran/medis, teknologi dan gerombolan orang asing. Dan karenanya, dalam banyak hal, rumah sakit atau nursing home berbeda tipis dengan penjara! Setidaknya Eving Goffman, Sosiolog Kanada, suatu ketika melihat kombinasi ketiga elemen di atas sebagai sebuah fenomena ‘total institution’ – yang saya coba definisikan sebagai sebuah fenomena di mana manusia di putus hubungannya dengan komunitas sosialnya, setidaknya untuk sementara waktu atau dalam sisa waktunya, hidup dalam sebuah dunia buatan yang menjadi sangat formal transaksional – administratif, terasing tanpa kehangatan sosial.

Seperti kebanyakan kita salah mengira, paman saya juga pernah berpikir bahwa orang jaman pra kemerdekaan dulu, manusia hidup lebih lama dari jaman kita. Saya lalu mengklarifikasikan secara sopan bahwa secara rata-rata, jaman kita memang hidup lebih panjang. Sulit membayangkan orang-orang jaman dulu hidup dan mampu menyetir hingga umur 80an. Hari ini, baik profesor pembimbing saya hingga ayah kandung saya masih mampu menyetir ratusan kilo meter di umur 70an. Di Australia dan Europe dengan mudah kita melihat orang-orang menyetir hingga akhir 80an.

Memilih di mana kita akan mati ini bukan sekedar sebuah pilihan yang terkonstruksi secara sosial. Tetapi menjadi topik kebijakan publik yang tidak banyak di ajarkan di kampus termasuk ilmu kedokteran. Orang Kanada pada suatu waktu memilih untuk mati bersahaja di rumah sendiri. Di Australia, pertanyaan ini sering di ajukan dan kebijakan publik belum terlalu berfokus pada diskusi yang lebih dalam. Sebagian besar orang Australia memilih meninggal di rumah sendiri, pemerintah berpikir sebaliknya: rumah sakit. Tahun anggaran 2011/2012, pemerintah mengeluarkan A$ 2.4 miliar untuk hospital care bagi mereka yang sedang berbaris menuju titik akhir.

Atul Gawande mengulas fenomena yang serupa terjadi di Amerika Serikat. Hingga tahun 1945, mayoritas meninggal di rumah sendiri. Di tahun 1980, hanya 17 persen orang meninggal di rumah. Sisanya di rumah sakit. Jangan mengaku anda seorang dokter yang berwawasan bila belum membaca buku yang informatif ini. Bukan sekedar promosi soal pentingnya palliative care, tetapi tentang kedokteran dan kehidupan itu sendiri.

Buku ini menarik karena sebagai seorang dokter, Gawande berkonsultasi dengan banyak disiplin baik kebijakan publik, sosiologi hingga filsafat. Tidak heran buku ini menjadi best seller.

Yang memiliki orang tua di atas umur 65 tahun, buku ini penting bagi anda. Tentu dilema soal karir, anak-anak, dan mandat sosial menjaga orang tua hingga hari terakhir bukan hal mudah. Dalam banyak hal, transisi sosial di mana para orang tua dari hidup bersama keluarga besar yang kami saksikan di banyak tempat di Asia perlahan-lahan akan berganti pada transisi pada tempat tinggal khusus para senior. Teman sekantor saya barusan membagikan pengalaman di mana ibunya menjual rumah lalu pindah ke properti khusus lansia. Sebuah proses yang sulit karena keduanya hidup bersama dalam waktu yang sangat lama. Sebuah keputusan yang tidak mudah bagi ke dua belah pihak.

Bagi mereka yang mau mempersiapkan diri menuju ketuaan buku ini membantu anda melihat perubahan-perubahan anda, termasuk defisit-defisit natural dari penglihatan (mata) hingga gigi, kestabilan kaki menopang tubuh anda hingga defisit memori anda. Yang utama adalah soal keberanian menghadapi fase akhir dari hidup anda sebagai manusia.

Seorang rekan saya barusan berujar bahwa dia bertekad untuk suatu hari nanti tidak meninggal di rumah sakit. Ia barusan menjadi Budhist. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sempat memiliki rekan-rekan budhist di Singapura yang gagah berani melihat kematian sebagai sebuah proses transformasi yang normal. Dia mengamini bahwa mindful dying adalah agenda hidup yang juga ia pelajari dari gurunya di Nepal. Dia menambahkan bahwa “barat membuat kematian sebagai sesuatu yang menakutkan”. Saya menyarankannya membaca buku ini. Juga untuk anda.

Tetapi soal buku di atas, ia juga berbicara soal bagaimana menjadi manusia dalam segala kesahajaannya menghadapi fase terakhir dalam secara lebih manusiawi. Tidak harus terkungkung dalam tradisi perawatan kedokteran yang menjadi mesin dan institusi yang dingin. Hal yang dalam banyak hal tidak dipahami dokter-dokter jaman sekarang – setidaknya menurut si penulis buku.

 

 

Mengenal Sejarah Tacoma Narrows Bridge, Washington State

DSC03490

Photo: J Lassa

Tidak masalah bila anda salah mengira. Ini memang soal romantisme. Walaupun jembatan Taccoma Narrows Bridge (TNB) yang baru (selesai 2007) ini tidak masuk dalam daftar tujuan wisata mainstream bagi pengunjung di Seattle, saya memasukannya dalam daftar pertama untuk dikunjungi. Selain penggunanya yang melintasi Tacoma dan Tanjung Kitsap di Washington State, mungkin hanya mereka yang jogging dan orang-orang aneh yang pernah mengenyam pendidikan teknik sipil khususnya yang sempat mengambil mata kuliah Dinamika Struktur maupun Disain Jembatan yang mengingat dan mengunjunginya. Bill, seorang bapak yang uzur, bingung mendengar pertanyaanku soal arah TNB bila harus berjalan kali dari perhentian bus yang terakhir di 6th Avenue di Tacoma.

TNB tidak seelok sepupunya seperti Manhattan Bridge di New York City atau Golden Gate Bridge (San Francisco), apalagi mau disandingkan dengan keterkenalan Seri Wawasan Bridge (Putrajaya, Malaysia) ataupun The Helix Bridge di Singapura.  Tetapi kegagalan strukturnya di era awal perang dunia ke dua menjadi soko guru dalam disain jembatan-jembatan serupa (suspension bridge alias jembatan kabel). Bukan karena ledakan perang dunia ke kedua atau gempa, tetapi runtuhnya TNB pertama akibat angin sepoi-sepoi empat bulan setelah konstruksi tepatnya 7 November 1940. Kecepatan anginya hanya sekitar 65-70km per jam (Bandingkan Cyclone Kategori 1 yang ‘hanya’ berkisar antara 90-120 km/jam); atau kategori 5 yakni di atas 280 km/jam).

Dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu, mungkin karena modeling komputasinya belum terlalu maju, textbook kebanyakan menyalahkan fenomena resonansi, istilah dalam studi dinamika struktur. Contoh bagi awam seperti keran air saya yang kalau dalam kondisi full speed, tidak ada getaran dan tidak ada air yang bocor keluar. Tetapi bila dalam kondisi perlahan, bunyi keran waktu menyiram bunga cukup besar dan sering diikuti dengan bocor. Contoh yang lain bisa anda lihat sepeda motor yang pelat nomornya longgar. Bila motor larinya perlahan, ributnya bukan main. Tetapi bila kebut dengan kecepatan stabil, hampir tak terdengar ataupun terlihat ada getaran.

Dalam bahasa teknisnya, resonansi adalah sinonim dari frekuensi alamiah (natural frequency). Secara teoritis, jika sebuah struktur (fisik jembatan atau bangunan) yang mengalami beban getar (vibrasi) sebesar frekuensi alamiahnya, maka akan terjadi perpindahan (istilah tekniknya displacements) pada tingkat maksimum alias resonansi. Semakin besar resonansi, tegangan pada struktur tersebut makin membesar. Daerah-daerah sambungan pada struktur tersebut akan mengalami kegagalan.

Akar masalah kegagalan sebenarnya bermuara pada penghematan biaya yang awalnya untuk aman mesti berharga US$ 11 juta (setara 192 juta dollar hari ini) menjadi US$ 8 juta (setara 139 juta dollar). Jadi akibat defisit 53 juta dollar (nilai hari ini), keamanan jembatan dikompromikan.

hummer-falling-off-tacoma-bridge-68455

Masalahnya mulai diketahui ketika masa pengerjaan jembatan ini. Berbagai upayapun dilakukan. Tetapi solusi yang tepat tidak mendapat jalan di tangan pengambil kebijakan proyek. Dari video di atas terlihat jembatan secara keseluruhan mengalami torsi.

Singkat kata, para ilmuan baik Fisika maupun Teknik Sipil dunia kemudian meninggalkan konsep resonansi. Tulisan tulisan yang terbaru setuju soal pengaruh angin (aerodynamic effects) pada pembentukan gaya torsi (puntir) jembatan ini. Tetapi penjelasan ini saja tidak cukup. Ada karakter relasi kompleks yang membentuk semacama kombinasi aerodynamics-aeroelastics di mana terjadi amplifikasi (pembesaran) torsi mengayun yang meningkat dengan kecepatan angin. Ada semacam fenomena vortivitas (yakni kecenderungan partikel cair untuk rotasi / sirkulasi pada titik tertentu) dalam skala besar yang berada di atas dan bawa dek jembatan. [Silahkan lihat Arioli and Gazzola 2017]

Bersambung!

 

Penghancuran Kreatif dan Orisinalitas Warby Parker

DSC03807

Mengapa kacamata dengan disain sederhana dengan material yang tidak kompleks berharga lebih mahal dari smartphone maupun laptop anda gunakan sehari-hari?  Laptop dan smartphones membutuhkan berlapis teknologi sedangkan kacamata teknologinya sudah hampir 900 tahun, tepatnya sejak abad 3 di Italia. Pertanyaan itu muncul ketika David Gilboa antri membeli iPhone disebuah Apple Store.

Pertanyaan itu kemudian menginspirasi tiga teman lain yang sama-sama fresh graduate MBA Wharton School, University of Pennsylvania, yang kemudian bergabung mengikuti program start-up bernama Venture Initiation Program dengan dana awal  $2,500 (Rp. 30 juta) di tahun 2010. Mereka adalah Neil Blumenthal, Andy Hunt and Jeff Raider yang mendirikan Warby Parker. Jangan kuatir kalau anda belum mendengar cerita tentang mereka. Singkatnya, Warby Parker adalah perusahan kacamata yang berdiri tahun 2010 dan menuai sukses besar 6 tahun terakhir. Yang menarik mereka berempat tidak memiliki pengalaman e-commerce, teknologi informasi maupun pengalaman penjualan ritel dan sejenis. Websitenyapun baru siap beberapa jam menjelang peluncuran.

Dengan visi menjual kacamata dengan harga di bawah $100 yakni hanya 20% dari rata-rata harga kacamata di toko mainstream, mereka menuai sukses. Singkat cerita, mereka masuk dalam perusahaan paling innovative tahun 2015 dalam peringkat Fast Company, mengalahkan Google, Samsung, Apple dsb. Saat ini nilai perusahaan mereka mencapai lebih dari 1 milyar dolar.

Latar belakangnya tentu ada. Seperti biasa, mahasiswa MBA banyak yang ngutang alias berhutang. Mencari pengganti kacamata berarti harus hilang $500 (alias Rp. 6.5 jutaan). Salah satu dari mereka (kemungkinan David) punya masalah kacamata. Framenya bahkan diikat dengan paper clip. Mereka bersama melakukan riset. Mencoba mencari tau siapa mendominasi bisnis kacamata. Diketahui kemudian bahwa Luxottica mendominasi bisnis kacamata termasuk memiliki banyak perusahaan dengan nama lain termasuk Oakley mapun Ray-Ban. Riset mereka juga memberi tahu bahwa keuntungan rata-rata per kacamata adalah hampir 20kalinya. Jadi bila kaca mata berharga Rp. 5 juta, kemungkinan harga aslinya hanyalah Rp. 250 ribu. Toh dengan struktur/frame yang seadanya kita bisa dapatkan hanya Rp. 20 ribu khan? Masuk akal!

Mereka paham bahwa hukum/aturan dan sistim diciptakan orang. Sedangkan kebanyakan kita atau sebagian kita bertumbuh tanpa menanyakan status quo. Untuk sukses, kata Adam Grant, orang butuh “kecerdasan jalanan” dan bukan sekedar “kecerdasan buku”. Tentang “kecerdasan buku”, kita punya banyak catatan tentang orang-orang kampus (baca: dosen) yang tidak punya kemampuan melakukan perubahan bahkan ditingkat mengatakan tidak pada sistim kampus yang korup. Bayangkan soal dosen yang tak pernah mampu menjual apapun namun mengajarkan marketing yang tidak menarik hati mahasiswanya. Mengajarkan hal-hal yang sama bertahun-tahun tanpa tahu sebagian hal di luar sana sudah berubah. Masalahnya kampus-kampus sering mencoba mencetak alumni yang hebat dalam menghafal diktat dosen. Murid-murid dan mahasiswa mainstream lebih senang bertumbuh menjadi hewan piaraan dosen-dosen mereka dan tunduk pada semua yang dikatakan. Mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah bertanya bagaimana dosen-dosennya mendapatkan pengetahuannya, tidak mungkin menjadi seorang revolusioner.

Dalam dunia orang tua, siapa yang tidak senang anak-anaknya mampu hitung secepat kalkulator? Siapa tidak bangga anak begitu patuh pada semua yang dikatakan orang tuanya? Siapa tidak bangga anak bermain piano mirip Bethoven? Adam Grant kemudian menambahkan bahwa “pratice makes perfect, but it doesnot make new”. Dan anak-anak patuh tidak mungkin mencitptakan creative destruction! Saya memilih menterjemahkan creative destruction sebagai penghancuran (bukan sekedar kehancuran) kreatif.

Adam Grant adalah pengajar dari ke empat pendiri Warby Parker di atas yang menulis secara jujur bagaimana ketidakyakinannya atas rencana bisnis kacamata online ini yang diusulkan dari ruang kelas setahun sebelum di luncurkan.

Cerita di atas saya ambil dari buku yang saya beli:  Original: How non-confirmist move the world (oleh Adam Grant) dari Amazon Books store di University Village, Seattle. Cerita ini memang menambah koleksi cerita David melawan Goliath yang sering terulang dalam tiap zaman. Salah satu buku yang menarik hati adalah David and Goliath oleh Malcom Gladwell yang saya beli di Kinokuniya Singapore tiga tahun lalu.

Cerita Warby Parker dalam Original di atas hanya salah satu cerita dan puzzle soal bagaimana para kepala batu yang melek riset (informed optimist / informed non-confirmist) mampu melakukan perubahan dan sukses. Buku yang penting di baca oleh mereka yang mau belajar mendirikan start ups di usia muda maupun senja. Sangat di rekomendasikan!

PhD Tips – Bagaimana merumuskan pertanyaan penelitian?

0b40ecdf9fcaf1ffa436a4f5917eabc0

Bila anda ingin mengambil PhD di negara-negara yang sudah mengalami enlightenment, kerap anda akan dituntut memiliki proposal PhD (S3). Dan salah satu yang akan dilihat adalah bagaimana atau apa pertanyaan penelitian anda!

Sejak sebelum punya mahasiswa bimbingan yang bersifat formal, saya sering ditanyain para junior soal bagaimana sih merumuskan/mencari/mendapatkan pertanyaan riset dalam rangka studi/riset master dan doktoral? Karena sering banget (jujur sudah di atas >20an yang nanya dalam 1 tahun terakir), maka saya putuskan menjelaskan secara ringkas di sini. Hitung-hitung membayar utang pada rekan-rekan di tanah air.

Pertama, anda perlu tau soal pemikiran besar di balik investasi PhD. Tidak seperti yang sering saya lihat di beberapa kasus di tanah air, sebaliknya di Australia, Jerman, UK, US dan Singapore (negara-negara di mana saya bekerja dan menimba ilmu), PhD itu bukan soal sepele dalam kaca mata sistim produksi pengetahuan. Tiap PhD tesis diharapkan melahirkan pengetahuan baru atau setidaknya berkontribusi pada pengetahuan.

Dan tiap mahasiswa PhD harus mampu menemukan celah pengetahuan (knowledge gap) yang perlu diisi. Kadang disebut sebagai ‘research gap’.

Tergantung tingkatan dalam proses pendidikan S3 anda, proses menemukan celah ini bisa saja berbeda-beda tingkat kedalamannya. Bila anda baru berusaha melamar, biasanya supervisor lebih kompromistis dalam hal mengkritisi pertanyaan riset anda. Proposal anda mungkin akan dinilai sebagai sebuah draft awal yang akan ditingkatkan kualitasnya begitu anda lolos hingga tahap seleksi final termasuk jaminan beasiswa. Tetapi bila hingga akhir tahun pertama (atau sebelum ujian konfirmasi – dalam konteks Australia), anda belum juga memiliki pertanyaan riset anda, maka mungkin anda dalam kondisi yang perlu bantuan serius.

Beberapa calon mahasiswa PhD cenderung naif dalam hal ini. Seringkali, yang masih sangat awam dengan riset, cenderung mencoba menyelesaikan masalah yang ada di dalam masyarakat melalui penelitian. Masalah yang dipersoalkan atau yang diproblematisasi cenderung masalah yang dipersepsikan sebagai masalah aktual, penting dan urgen diselesaikan. Hal ini tentu sah-sah saja. Tetapi dalam perspektif akademis, problematisasi ini bisa saja terjadi ketika tidak ada masalah aktual yang urgen tetapi membutuhkan penjelasan sistimatis demi pembelajaran: ‘mengapa tidak ada masalah; atau mengapa masalah-masalah klasik negara bisa diselesaikan oleh negara-negara terntentu?’ Anda bisa saja bertanya mengapa Singapura bisa menjadi negara yang begitu maju dalam banyak sektor yang tidak bisa diprediksikan 50 tahun silam? Dalam hal ini problematisasi dalam spirit akademis bermaksud untuk mempermasalahkan mengapa negara X tidak memiliki masalah A atau B seperti yang terlihat di negara Y dan Z. Jadi problematisasi yang saintifik itu tidak serta merta mensyarakatkan adalah realitas ontologis yang bersifat negatif dalam kondisi rawa paya.

Nah, problematisasi di atas perlu dimatangkan lagi lewat tahap lanjutan. Yakni identifikasi research gap atau knowledge gap.  Sejatinya ini harus didasarkan pada sebuah observasi atas literatur maupun ‘masalah’ yang menjadi ketertarikan anda. Katakanlah ada 100 paper yang pernah dituliskan terkait studi sosial banjir dari berbagai negara. Anda tentu tidak bisa serta merta menyatakan tertarik untuk studi banjir level PhD di kabupaten anda karena sebelumnya belum ada penelitian terkait di kabupaten anda. Yang diperlukan adalah dari 100 paper itu anda perlu lihat pola dari penelitian sebelumnya. Misalkan: pertanyaan yang pernah diajukan, apakah ada kemiripan? Apa pertanyaan yang belum pernah ditanyakan? Dan, apakah metodenya ada persamaan/perbedaan? Yang yang sudah diketahui sejauh ini? Apakah anda mampu menidentifikasikan yang sudah dan belum diketahui? Di mana saja riset-riset sebelumnya dilakukan? Apakah ada bias konteks yang kemudian diambil dan menjadi narasi yang dominan dalam penyelesaian masalah di konteks yang lain yang mungkin saja setting budaya maupun konteks ruang waktu tidak terlalu relevan buat konteks di mana anda berada?

Anda tentu bisa terus bertanya: bagaimana dengan konteks anda saat ini? Bagaimana bila konteks kita bisa digunakan untuk berkontribusi bagi pengetahuan soal banjir? Anda bisa tiba pada pertanyaan terkait model-model pengelolaan (tatakelolah) banjir yang top down versi tunggal pemerintah maupun yang berbasis komunitas, berbasis pasar (insurance and risk transefer) hingga model hybrid (seperti public private partnersip dsb.).

Dan bila anda memang termotivasi belajar soal pengelolaan risiko banjir, apakah anda sudah membaca PhD Thesis si Gilbert White tahun 1945 berjudul Human adjustment to Floods? Studi PhD itu mirip mencoba mengendarai mesin waktu ke masa silam, kembali pada pertama kali topik anda pertama kali dipikirkan orang. Yang ditakuti, adalah pemborosan sumber daya karena anda tidak menambah sedikitpun kontribusi selain tiba pada kesimpulan-kesimpulan karya-karya 100 tahun lalu.

Terasa sulit? Mungkin saja. Tetapi dengan terus melatih diri, anda sangat mungkin tiba pada titik di mana pertanyaan penelitian anda menjadi lebih tajam. Dan di titik ini anda bisa melihat potensi di mana riset anda bisa berkontribusi pada pengetahuan global soal masalah yang anda hadapi dalam konteks lokal anda. Ini tentu di kenal dengan universalisasi dari pengetahuan yang diproduksi oleh anda.

Ilustralisi yang tepat mungkin seperti ini: Anda datang ke sebuah wilayah jelajah yang baru anda temui di sebuah pulau baru yang tidak anda kenal. Dua pilihan untuk anda: Pertama, anda bisa bertidak seperti orang Eropa ketika datang ke Benua Amerika atau Australia. Misi ekspansif anda membuat anda berpikir andalah orang pertama yang tiba di benua tersebut. Tak peduli sudah 50-80 ribu tahun ada penduduk asli, anda dengan seenaknya mengklaim soal “temuan baru” anda. Tetapi ada pilihan ke dua bagi anda: Begitu anda menginjakan kaki di benua baru, anda perlu tanyakan secara lebih jujur: apakah sudah ada orang yang menginjakan kaki mereka sebelumnya di tempat ini/itu? Bila ya, coba observasi dan petakan wilayah mereka sambil buat ancang-ancang yang lebih manusiawi: kira-kira posisi anda berada di mana? Apakah anda sekedar berdiri di atas tapak yang sudah dibangun orang lain? Ataukan anda harus membuat koloni baru yang tidak serta merta sebuah wilayah rampasan (baca: plagiat).

Semoga menolong untuk sementara.

[Bersambung di lain waktu]

J.A.L.

 

 

Potensi diskursif presiden: Sepeda dan Buku

Sumber Tribun Medan / Twitter Jumat, 10 Februari 2017 07:49

Sumber Tribun Medan / Twitter Jumat, 10 Februari 2017 07:49

Mengapa bukan buku tapi sepeda? Tanya Rocky Gerung!

Dalam logika politik kawanan Indonesia yang semakin Boolean, yang diframing “salah-benar”, binari hitam-putih, 0-1, “kita-mereka”, maka berpendapat tegas di ruang publik selalu dikotak-kotakan dalam ‘pro dan anti’ kelompok/pihak yang dikritik. Karena itu, kritik Gerung pada Presiden Jokowi pun ditanggapi beragam dalam nuansa binaris, salah-benar dan Sono versus Sini.

Jalan keluarnya hanya 1. Mari bersama-sama terapkan logika fuzzy aja. Jadi tidak 0, tidak 1. tetapi ada sekian pilihan dari 0.00001 hingga 0.999999. Pilihan inilah pilihan Republik yang ragamnya ragam sekali. Pulau dan sukunya super ragam.

Kita perlu buku. Kita perlu sepeda. Bukan sepeda atau buku. Keduanya dan banyak lagi.

Namun tetap menarik mencermati apologetik di Facebooknya Pak Jokowi “Mengapa Sepeda“? “Mungkin ada yang bertanya, mengapa sepeda? Mengapa seorang Presiden senang membagi sepeda lewat kuis di setiap acara dan kunjungan? Mengapa bukan uang, televisi, atau telepon genggam? Saya senang bersepeda sedari dulu. Bersepeda itu mandiri dan bekerja keras. Kemajuan, kelajuan, juga kecepatan dihasilkan dari usaha sendiri, gerak tubuh sendiri, tanpa mesin atau dorongan tenaga orang lain. Seberapa cepat kita ingin sampai ke tujuan tergantung seberapa keras kita mengayuh. Bersepeda itu gambaran kebersamaan dari anggota tubuh yang beragam bentuk, fungsi dan posisinya. Dengan mengayuh sepeda seluruh anggota badan bergerak dalam harmoni. Dua tungkai kaki mengayuh pedal seirama, mata memandang awas ke depan, tangan menggenggam kemudi seraya jari waspada menarik tuas rem. Bersepeda itu bergerak maju dalam keseimbangan. Jika jalan menanjak, badan sedikit membungkuk. Jika berbelok ke kanan atau ke kiri, tubuh ikut menyelaraskan. Satu yang tetap, titik berat pesepeda selalu ada di tengah-tengah. Bersepeda itu untuk semua orang, semua usia, lintas suku dan peradaban. Lagipula, bersepeda itu sehat, baik buat lingkungan sekitar karena bebas polusi. Pendeknya, bersepeda itu adalah bekerja keras dan mandiri, melaju dalam harmoni dan keseimbangan. Dan karena itulah, saya senang berbagi sepeda di setiap acara dan kunjungan.”

Kita tau bahwa besar kemungkinan ada staff di Istana yang mendukumentasikan video dan statement di atas. Terhadap sepeda, postingan di atas sekedar bertanya “Mengapa bukan uang, televisi, atau telepon genggam?” [Bisa disimpulkan, buku tidak berada pada lapisan mental teratas penulis postingan di atas – entah di lakukan staff istana ataupun didikte Pakde secara langsung dan langsung diposting tanpa edit].

Menarik juga bahwa diluar postingan di atas, intelektual-intelektual pro-istana mencoba membangun argumentasi dan bukti tambahan: postingan-postingan buku dan fasilitas pengiriman buku gratis ke daerah-daerah oleh Presiden.

Sejumlah argument tambahan soal mengapa pentingnya sepeda tentu diutarakan dalam ribuan postingan media sosial. Ada yang berargumen soal mengurangi konsumsi karbon lewat penggunaan sepeda.

Sudah tentu, kita butuh semakin banyak sepeda. Perang melawan malnutrisi abad 21 dalam wujud obesitas perlu dilakukan lewat banyak jalur. Obesitas adalah masalah malnutrisi anak, remaja hingga pemuda yang berakibat pada berbagai penyakit seperti hipertensi, gagal ginjal, gagal jantung, diabetes dsb. Obesitas akan menjadi masalah public health nomor wahid yang dalam banyak hal tidak berada dalam agenda pemda-pemda di tanah air.

Sepeda hanya salah satu jalan keluar. Tetapi juga perlu perbaikan jalan dan pengadaan trotoar. Membuat sistim transportasi dan jalan raya semakin ramah pada pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Perlu Juga Buku 

Saya mengusulkan Pak Jokowi membagi buku-buku dalam perjalanan-perjalanan beliau. 1 sepeda bisa setara 20 buku Bumi Manusia si Pramoedya Ananta Toer. Tidak usah takut soal gosip murahan bahwa ini buku kiri. Ini buku penting bagi generasi muda dan tua. Buku ini bicara soal kedaulatan rakyat dalam berpengetahuan sendiri. Spirit ini tidak begitu tegas terdapat dalam buku-buku lain yang lahir kemudian di tanah air. Buku ini buku eksistensialist NKRI yang sejati.

Tentu, pak Presiden bisa mengumpulkan data soal 50 buku terbaik yang wajib di baca anak-anak di tanah air. Tetapi bisa juga dibalik: Istana membeli buku-buku dari penulis-penulis di daerah seperti NTT dan Papua lalu membagikannya pada anak-anak di Jawa dan Sumatra. Dan sebaliknya anak-anak di NTT dan Papua di bagikan buku-buku dari penulis-penulis muda di Kalimantan dan Jawa. Supaya keberagaman pandangan dan visi ekologis bisa dibagi secara lebih cepat.

Tentu pak Gerung ada benarnya. Presiden itu bukan saja panglima militer tertinggi, tetapi juga panglima peradaban Indonesia tertinggi. Ia memiliki potensi paling besar soal membangun diskursus pentingnya membaca buku. Potensi diskursif presiden ini bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang menyembuhkan dan membangun kesadaran kritis.

Pak Jokowi, kita butuh anda hadir juga dalam gerakan literasi secara lebih sistimatis. Sebagaimana anda agresif dalam membangun jalan-jalan fisik di Papua dan Kalimantan, demikian pula anda perlu membangun “jejaring jalan” yang bersifat mental batiniah. Membagi buku adalah  salah satu jawabannya.

 

Salam!

J.A. Lassa

 

A critical reflection on “running to higher ground” narrative!  Myth and Reality in Tsunami Warning and Response

Screen Shot 2017-08-20 at 9.31.39 PM

This paper provides critical reflection on the transferability of local knowledge adoption to foreign lands and/or by other peoples. It also challenges the universal construction of and acceptance of “going to the higher ground” as means to save lives to avoid the tsunamis hitting the shore. Scientists and practitioners of tsunami preparedness and disaster management often promote the idea of “running to the higher ground” when physical and biological indicator of tsunami appears at beaches. Many peer-reviewed and grey literatures have discussed about the role of local knowledge (LK) of indigenous tsunami warning system that saved lives across the Indian Ocean from Simelue Island of Aceh. In Simelue Island, ‘only’ seven lives were lost as the people went to higher ground.

This research argues that the indigenous Smong (tsunamis) warning systems informed by TK in Semelue Island could still save the lives of the people in the island in future tsunami events. However, a critical analysis of the real merit of the LK in the context of Simelue Island needs to be made in order to be meaningful for the locals to deal with future tsunami risks. Informed by the recent findings from East Flores where several people who evacuated themselves to the nearby hills got killed and got buried by landslides as soon after the 1992 Flores Earthquakes. This paper challenges the universal belief that “running to the higher ground” could save lives.

Mengurai benang kusut pendidikan GMIT

foto-hal-01-cover-140817-sekolah-gmit

Sumber: Victory News 14 Agustus 2017

[draft 0 – untuk di diskusikan]

Perlukah Semua Sekolah GMIT di Pertahankan?

Perdebatan soal sekolah GMIT ini bukan hal sederhana. Ini bukan hanya menyangkut sejarah panjang GMIT dengan pertalian rumit dengan pemerintah kolonial di mana sekolah-sekolah merupakan alat misi dengan agenda modernitas tetapi sekaligus penjinak masyarakat lokal. Ini juga menyangkut cara pandang soal negara, rakyat, jemaat dan gereja.

Dalam cara pandang modern dalam setting negara bangsa, pendidikan adalah hak warga negara dan negara wajib memberikan pendidikan bagi citizen (rakyat). Karena itu persoalannya bukan soal tutup atau lanjut. Tetapi soal nilai tambah apa dari keputusan lanjut/pertahankan sekolah-sekolah saat ini.

Bila visinya adalah pemberdayaan jemaat/umat, maka pertanyaannya bukan apakah sekolah GMIT perlu dipertahankan, tetapi bisa juga soal apakah jemaat/umat telah memiliki akses pada pendidikan dasar?

Apa yang perlu dipertahankan dari pendidikan GMIT? Apakah sekolah-sekolah GMIT memiliki semacam minimum standard kualitas pedagogi Kristen/GMIT? Apakah memang ada? Setau saya, sejak jaman kami sekolah dulu, SD Inpres dan SD GMIT berjalan dengan sistim pedagogi yang hampir mirip. Bila sekolah-sekolah GMIT memiliki pedagogi Kristen sebagai nilai tambah, pertanyaannya adalah bisnis model yang bagaimana yang harus dibuat agar lebih efisien dan bagaimana membuat bisnis model yang berfokus pada kesejahteraan guru dan murid?

Debat maupun curhat soal defisit dalam pendidikan GMIT dalam sosial media dalam sebulan terakhir sepertinya tidak menentu arasnya. Yang paling mungkin adalah baik konsep pedagogi GMIT hingga bisnis model sekolah-sekolah GMIT memang (setelah 100 tahun) tidak lagi menawarkan nilai tambah selain fakta bahwa di daerah-daerah terpencil yang tidak terjangkau negara, maka GMIT, sebagai bagian dari non-state actor masih memiliki peran sebagai penyedia pendidikan bagi umat maupun sesama.

Tujuan postingan ini hanya untuk bertanya dan memantik diskusi yang lebih produktif dan sistimatis.

Sejarah Singkat Sekolah GMIT 

Sedikitnya 75 persen sekolah GMIT yang ada hari ini sudah ada sebelum kebanyakan anda dan saya belum lahir. Dalam kurun waktu hampir lima puluh taun ini, sekolah-sekolah milik GMIT/Yupenkris meningkat dari 450 sekolah di era 1970an  menjadi 600an di tahun 2010an. Artinya dalam 5 puluh tahun ini rata-rata perkembangan sekolah sekedar pertahun adalah 3 sekolah pertahun. Bandingkan dengan menjamurnya sekolah-sekolah GMIT dalam kurun 1960an-1970an yang bertumbuh hampir 20 sekolah pertahun. Detail perkembangan sekolah GMIT ini sayangnya tidak tersedia data yang sistimatis. Klaim SD Kuanfatu sudah berdiri sejak 1918 (Foto di Atas) pun sebenarnya perlu diragukan. Karena hingga tahun 1920 saja, jumlah pemeluk Kristen (cikal bakal jemaat GMIT) di TTS belum sampai 200 orang. [1]

Sebelum kemerdekaan RI, kebanyakan sekolah-sekolah Kristen di NTT di merupakan warisan dari Gereja Kolonial [Indische Kerk] yang memang merupakan instrumen alias kaki tangan pemerintah kolonial yang dikelolah Protestantsche Kerk [Gereja Protestan Belanda]. Jumlah sekolahpun sebenarnya bisa dihitung jari yakni dalam bentuk STOVIL yang berdiri di Kupang (1902), Ba’a (Tahun 1903, tapi kemudian dipindahkan ke Kupang 1926), dan SoE (1936) [2].

Berdirinya STOVIL di So’E adalah sebuah keheranan tersendiri karena secara umum hampir semua STOVIL mengalami pengurangan subsidi akibat krisis ekonomi global 1930 di mana pemerintah Belandapun mengalami krisis yang sama-sama kita tau ujung dari krisis ini bermuara pada perang dunia ke 2 di mana Belandapun takluk pada si kulit kuning, Jepang. Dipindahkannya STOVIL Ba’a ke Kupang tahun 1926 kemudian bisa dibaca sebagai bagian dari dampak krisis ekonomi yang sudah mulai dirasakan Amsterdam. Perang Dunia II menjadi awal bubarnya Indische Kerk Tahun 1941.

Secara pendanaan, Bisnis model Sekolah GMIT hampir tidak berubah dalam 100 tahun ini. Sistim pendanaan mengandalkan negara (baik pemerintah kolonial lewat gereja kolonial hingga 1941; dan Pemerintah RI 1948 – sekarang; tentu dengan sedikit bantuan Gereja Protestan Belanda sebelum dihentikan Orde Baru 1993). Dengan sistim subsidi yang dilakukan gereja pusat, Tenaga guru disediakan STOVIL, beberapa sekolahpun bisa beroperasi.  Sejarah detail tentu perlu tulis lagi.

Awalnya adalah berdirinya jemaat yang kemudian perlu diikuti dengan pendirian sekolah tingkat untuk menampung anak-anak jemaat. Dalam perkembangannya kemudian dibuka untuk yang bukan jemaat. Ambil contoh di Flores khususnya Ende tepatnya Tahun 1948 mana kala TK dan SD GMIT Syallom pertama kali dibuka dan masyarakat berlomba-lomba mendaftar karena harganya yang terjangkau di mana sebagian besar siswanya adalah masyarakat Muslim dan Katolik. Tidak tercatat dengan baik bagaimana sistim operasi sekolah di SD Syallom Ende.

Regime Yupenkris sebagai otoritas pengelolah pendidikan GMIT sendiri baru berdiri setelah ‘penertiban’ oleh Orde Baru di Tahun 1967 yang mencoba menata ulang sistim pendidikan di Indonesia. Sejak itu, secara formal semua sekolah dibawah naungan GMIT menjadi urusan Yupenkris.

Jumlah jemaat dengan proxy tiga kabupaten kota di Pulau Timor yang telah berkembang hampir dua kalinya: dari 700 ribu di 1979an menjadi 1.2 juta penduduk (estimasi kasar) awal 2010an. Artinya akses pendidikan jemaat sejak 1970an ketika Indonesia semakin berkembang secara tidak langsung telah diambil alih oleh negara.

Pertanyaan Diagnostik Sekolah GMIT

Mungkin tidak perlu emosional, juga romantis, tentang masa depan pendidikan GMIT. Mari lupakan sejenak soal perlu dipertahankan atau ditutupnya sekolah-sekolah GMIT di pedalaman Timor Barat.

Pertanyaan diagnostik pertama adalah: Anda adalah pasangan muda kelas menengah dan sama-sama bekerja dengan penghasilan 10 juta perbulan. Apakah anda bermimpi menyekolahkan anak-anak balita anda di sekolah GMIT yang dikelolah Yupenkris? Dan apakah anda akan terus menyekolahkan mereka hingga SD, SMP hingga SMA milik GMIT?

Bila anda menjawab YA untuk 1 kali saja, maka masih ada harapan. Namun bila jawabannya adalah Tidak, mungkin krisis bukan saja sudah terjadi tetapi sudah terhitung terlambat untuk diperbaiki.

Munculnya sekolah-sekolah yang menawarkan sistim pedagogi kristen (misalkan SD/SMP/SMA Lentera Harapan; Sistim Lentera Harapan adalah model realist dengan segmentasi kelas menengah bawah. Dari investor yang sama dibangun model kelas menegah seperti Dian Harapan.

Masih ada belasan sekolah swasta dengan platform Kristen (yang terselubung?) menawarkan paparan Bahasa Asing dan suasana pendidikan modern di Kota Kupang bukan hanya cerminan meningkatnya jumlah kelas menegah, tetapi juga fakta bahwa orang-orang merindukan sistim pedagogi alternatif. Beberapa sekolah swasta di Kota Kupang bahkan menawarkan Christian Pedagogy, dengan membeli kurikulum-kurikulum dari Kanada, Amerika Serikat dan lain sebagainya.

Pertanyaannya adalah: apakah bisnis model saat ini perlu dilihat ulang? Apakah perlu adanya reformasi Yupenkris? Bagaimana Sinode GMIT membuat terobosan yang legitimatif dan dapat diterima Yupenkris? Bagaimana sistim insentif yang disediakan pemerintah (seperti Dana BOS) dan penempatan guru bantu dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal untuk perkembangan sekolah GMIT?

Tentu masih ada yang bisa diperbaiki. Bagaimana caranya? Dari mana memulainya?

Catatan Kaki

[1] Lihat Sejarah GMIT – https://sinodegmit.or.id/sejarah-gmit/ [catatan: sebagian catatan Sejarah GMIT ini perlu dikritisi karena berbeda dengan catatan yang lebih komprihensif seperti Catatan [2] di bawah.

[2] Lihat Jan Sihar Aritonang and Karel Steenbrink 2008. A History of Christianity in Indonesia, BRILL: LEIDEN and BOSTON – Lihat Bab VII, Old and New Christianity in Southeastern Island]

[3] Penulis adalah orang GMIT yang bersekolah di sekolah negeri maupun Katolik.

Hukum 100 KPH: Bagaimana menulis disertasi dan tesis tepat waktu?

phd061913s

Pernah mendengar seorang profesor mampu menulis 5000 kata sehari? Tentu ada. Dan untuk hal yang dikuasainya, tidak perlu heran. Yang paling penting tidak perlu minder dan juga memandang rendah diri anda. Tidak perlu menambah beban psikologis pada diri anda. Menulis adalah skill yang akan semakin baik dengan latihan dan disiplin yang mengikutinya.

Ketika menjadi mahasiswa PhD (S3) 10 tahun silam, saya mencari sosok yang bisa memberi inspirasi bagi proses penulisan disertasi saya. Dan Stephen King yang masyur itu memberi panduan yang tidak ada salahnya anda coba. Bahwa ia mengalokasikan waktu 3-4 jam setelah bangun pagi dengan menulis dan akan stop menulis setelah mencapai 2000 kata. Soal Mr King ini, anda tak perlu heran. Stephen King menulis 54 novel sepanjang hidupnya. Bukan sembarang novel karena novel-novelnya super laris dan kerap berakhir di layar lebar. Jadi sejak memulai karirnya 50 tahun lalu, praktis dia menulis 1 buku setahun.

Ketika memulai Tahun 2008, saya bertekad untuk menulis 200-300 kata perhari untuk disertasi saya. Karena untuk PhD kami diharapkan menulis 75000-90000 kata, Bila anda harus menuliskan disertasi 90000 kata untuk waktu 3 tahun, maka rata-rata perhari anda membutuhkan 82 kata. Dibutuhkan hanya 4-5 menit untuk paling lambat untuk mengetik jumlah kata itu. Artinya dengan skenario 250 kata, anda bisa menuliskan 90000 kata setahun atau setara 1 disertasi. Dalam 3 tahun itu berarti anda memiliki potensi produktifitas 3 disertasi.

Bicara hanya 10 menit sehari selama 3 tahun. Secara total, nasib anda lulus atau tidak dari S3 hanya dibutuhkan total 182 jam mengetik. Bila 1 jam menulis membutuhkan proses membaca, meneliti, menganalisis sebanyak 5 jam, anda hanya memerlukan waktu 1100 jam untuk lulus PhD dari total 26280 jam beasiswa anda (hasil dari 3x24x365). Artinya kurang dari 5 persen waktu anda. Yang tidak perlu anda ganggu gugat adalah waktu tidur anda 8 jam sehari atau 8760 jam per tiga tahun. Bila anda naikan menjadi 10 persen saja, mungkin anda harus lulus cum laude.

Tanpa bermaksud meremehkan rekan-rekan yang lain yang menghadapi kesulitan dalam menulis disertasi karena hal-hal non-teknis seperti konflik dengan supervisor dsb. saya sebenarnya mengajak anda yang sementara atau akan studi lanjut untuk berpikir secara teknis perencanaan waktu menulis.

Tentu jangan anda khilaf. Saya bukan mahasiswa yang rajin. Karena malas, maka saya berhitung secara matematis agar bisa lulus. Dan tips Stephen King saya kalikan faktor 10 persen saja dari 2000 kata per hari menjadi 200 kata perhari. Bukan hanya lulus tepat waktu, tetapi saya masih bisa mengurus banyak hal dari menikmati mengantar jemput anak ke sekolah, berlibur, terlibat debat online yang tidak ada ujung pohonnya, mengurus Jurnal NTT Studies, mengkoordinasikan kerja-kerja volunteer dan banyak lagi kerja gratisan dsb. Saya bahkan membuat hal yang tidak patut ditiru: Menulis 150 halaman laporan pada sebuah lembaga PBB di Paris hingga menulis laporan 50 halaman ke sebuah lembaga di Den Haag 2 bulan sebelum deadline disertasi PhD saya.

Kedisiplinan berbasis kemalasan ini juga dilakukan teman-teman seangkatan saya. Seorang teman saya yang saat ini bekerja di Washington DC mampu mengirimkan disertasi final tiga bulan lebih awal dari saya plus sukses dalam publikasi di 8 peer reviewed journal sebagai lead author (penulis pertama). Dalam kelas PhD yang hampir 30-40an orang, memang tidak lebih dari 5 orang yang tamat tepat waktu. Sedangkan teman satu ruangan saya di UNU (yang super disiplin dan mantan kepala BMKG di negaranya) sudah selesai draft disertasinya hanya dalam 24 bulan plus 3 paper di top journal yang tidak ada hubungan dengan PhD disertasinya. Nyami kerja-kerja konsultasi yang dikerjakannya demi menguliahkan anaknya juga dilakukannya.

Tentu soal disertasi bukan hanya menulis tetapi juga penelitian analisis. Tepat! Dan penelitian lapanganpun anda perlu menulis jurnal / catatan harian bukan? Dan proses ini justru memberi anda kesempatan menuliskan hasil wawancara / ataupun observasi dalam tulisan bukan? Bila anda dari ilmu sosial ada kemungkinan setiap harinya anda wajib menuliskan wawancara / observasi anda di atas 2000 kata (bisa kurang bisa lebih).

Tidak perlu stress dalam menghadapi deadline! Tak peduli S1, S2 atau S3. Anda selalu harus menghadapi deadline dalam menulis tugas kuliah. Anda tidak sendirian. Ada ratusan juta orang di dunia berstatus mahasiswa setiap tahunnya.

Dan ini bukan soal pintar tidak pintar. Ini soal pintar-pintar mengelolah waktu dan mengerjakan tugas anda dari perspektif yang lebih strategis dan taktis. Dan “Hukum 250 KPH” (kata per hari) bisa saja menjadi pilihan taktis anda. Bahkan dengan 100 KPHpun anda sebenarnya bisa tepat waktu karena setara 120 ribu kata. Lebih dari yang dibutuhkan untuk ilmu sosial secara umum.

PhD adalah soal menghasilkan pengetahuan baru dan anda diwajibkan berkontribusi pada pengetahuan. Karena itu anda tentu perlu bekerja ekstra tetapi perlu pintar-pintar mengatur mengatur waktu untuk kehidupan keluarga dan sosial yang lebih seimbang.

Sukses untuk studinya.

Salam!