Home » Political Ecology of Disasters » Mandat Ekologis Kristen: Menuju “Kelahiran Baru” Lingkungan Alam?

Mandat Ekologis Kristen: Menuju “Kelahiran Baru” Lingkungan Alam?

Notes. I am interested in understanding theological response to climate change and disasters. This article has been drafted since 2010 when I interviewed Rev Sailana from Alor Island, Indonesia during Christmast in Kupang in Year 2010. This draft used to be published by Satutimor in December 2013. This is part of my thinking and observation on local theological response to climate change. See also “Global Problem, Local Solution: Adaptasi Perubahan Iklim Dengan Menggunakan Sailana Model” [Global problem, local solution: climate adapation through the use of Sailana Model – an Eco-theological response to climate change] Catatan. Artikel ini dibuat berkaitan dengan Tema Tahun 2010 GMIT adalah: “Menjadi gereja yang peduli terhadap persoalan sosial dan ekologis. Hari ini, 7 tahun kemudian, kita bisa melihat dan mendengar beberapa gerakan di dalam GMIT terkait inisiatif-inisiatif ekologis seperti membangun jebakan air yang dilakukan oleh pendeta-pendeta dalam lingkaran GMIT.
Lassa, J. 2010. Mandat Ekologis Kristen: Menuju “Kelahiran Baru” Lingkungan Alam?GMIT Majalah GMIT Tahun 2010. 

Oleh – Jonatan Lassa

Dorongan untuk ‘menguasai’ alam ciptaan telah menghasilkan eksploitasi sumber daya alam yang tidak masuk akal, pengasingan lahan dari pemiliknya serta penghancuran budaya asli…. Alam ciptaan menjadi ada kerena kehendak dan cinta Allah Tritunggal dan karenanya memiliki ikatan batin dan mengandung kebaikan. Meskipun mata manusia mungkin tidak selalu melihat hal itu, setiap makhluk dan seluruh ciptaan dalam paduan suara kesaksian tentang mulianya kesatuan dan harmoni dengan ciptaan diberkahi.   (Petikan Dokumen Dewan Gereja Dunia, Granvollen, Norwegia 1998)

 

Pendahuluan

Membayangkan kembali kota Soe 25 tahun lalu, ketika sebagian kota yang ada sekarang masih ditutupi hutan walau tidak terlalu tebal, menjadi titik awal refleksi dalam artikel ini berkaitan dengan keberlanjutan ekologis dan Kekristenan. Kala itu, sumber energi utama rumah tangga adalah biomassa (seperti kayu dan ranting kering). Di lingkungan di mana penulis menjalani masa kecil, tidak banyak penduduk menggunakan kompor minyak tanah. Pemandangan rutin setiap hari minggu adalah tiap orang/rumah tangga, dengan alatnya sendiri (parang, kapak, dan kereta kayu) menuju hutan sekitar kawasan wisata Bu’at. Sebagian rumah tangga memilih membeli dari para pengumpul.

Hutan kota tersebut kini hampir musnah. Jumlah penduduk kabupaten TTS per tahun 2008 adalah dua kali lipat tahun 1971. Secara teoritis, bila semua penduduk membutuhkan energi biomassa, dibutuhkan hutan dua kali lipat bahkan lebih. Penduduk yang terus bertambah karena urbanisasi dan juga kelahiran menjadikan kebutuhan atas lahan untuk perumahan bertambah. Fungsi hutan tentunya bukan sekedar sumber biomassa, tetapi juga fungsi layanan ekosistim seperti iklim mikro maupun penyanggah air tanah. Penulis masih terus merenungi hilangnya tutupan hutan tipis di daerah sekitar kawasan wisata Bu’at di Soe hari ini dibarengi oleh berita mengeringnya mata air yang berjarak 2-3km di bawah hutan tersebut, tepatnya di Oenasi, Kota Soe (lihat Pos Kupang, 7 Nov 2009).

Manusia terus dilahirkan memenuhi kota tersebut, sedangkan alam khususnya hutan semakin sulit dilahirkan kembali di masa depan di mana ia diharapkan terus melayani kebutuhan energi biomassa maupun layanan ekosistim seperti konservasi sumber air bagi cucu-buyut kita. Yang pasti, alam Timor tidak mungkin terlahir kembali seperti “sedia kala” karena kemampuan alam dalam meregenerasi dirinya sendiri kalah cepat dari kerusakan yang manusia timbulkan – terutama dalam klaim memenuhi perintah Allah tentang  “penuhilah dan taklukanlah bumi.”

Tulisan Garret Hardin yang sangat terkenal The Tragedy of The Commons yang pernah dipublikasikan majalah Science 42 tahun lalu dengan telak menggambarkan dilema berkaitan dengan situasi di mana berbagai individu yang secara bebas dan semata-mata rasional berdasarkan kepentingan masing-masing, pada akhirnya makan menguras habis sumberdaya bersama yang terbatas tersebut, bahkan ketika dengan sangat jelas masing-masing pihak sadar bahwa tidak ada yang menghendaki mengeringnya mata air Oenasi kala kemarau yang biasanya melayani 5000 kk.

Terkurasnya sumber daya alam yang terletak di atas tanah seperti hutan dan degradasi lahan, membuat pilihan bagi generasi kini menjadi terbatas. Pilihan atau tepatnya godaan baru untuk mengeruk yang tersimpan di dalam tanah akhirnya tiba. Bahasa yang lebih akrab kita kenal sebagai tambang. Bagaimana kita membayangkan bila tiap orang merasa bebas mengeruk sebanyak-banyaknya hingga 25 tahun ke depan? Adakah implikasi ekologis yang mampu dibayangkan generasi hari ini? Generasi 25 tahun akan datang di Timor mungkin saja akan lebih rentan terhadap risiko kekeringan dengan skala kering yang sama 25 tahun lalu. Dalam terminologi yang sedikit radikal, cerita dari Soe di atas sering dikenal dengan nama ekosida (ecocide) yang secara literalis bermakna pembunuhan atau penghancuran lingkungan alami yang diciptakan Allah. Apakah fakta tersedotnya sebagian saudari-saudari atau perempuan-perempuan asal TTS ke dalam pusaran migrasi tenaga kerja rumahtangga ke luar negeri dengan berbagai jebakan perdagangan manusia merupakan bagian dari skenario dampak ecocide?

Revisi Teologi Ekologi dan Lingkungan

Dalam observasi teologi ekologis, panggilan memenuhi bumi memiliki implikasi destruktif yakni berupa penaklukan alam untuk keberlanjutan manusia – sering dilakukan ibarat zero sum game – keberlanjutan manusia adalah akhir dari keberlanjutan alam. Pertanyaan klasik yang terus diajukan bagi para mahasiswa studi lingkungan adalah bagaimana menjembatani dua dunia tersebut menjadi harmonis bahwa keberlanjutan manusia bermakna keberlanjutan lingkungan alam dan sebaliknya dalam keberlanjutan lingkungan alamilah terletak masa depan manusia.

Dalam perspektif ilmu pengetahuan, khususnya studi-studi ekologi, pendekatan zero sum game di atas tentu keliru. Akhir dari keberlanjutan alam adalah bencana bagi manusia – kondisi eskatologis yang dipercepat oleh tangan manusia sendiri dalam wajah bencana ekologis.

Salah satu tafsir kejatuhan manusia di Taman Eden adalah dosa menyebabkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah, dan manusia dengan alam. Dalam Kitab Kejadian, walaupun manusia datang kemudian setelah semuanya ada, Allah turut mengutuk tanah sebagai paket hukuman atas dosa manusia. Bila di dalam Kristuslah manusia diperdamaikan dengan Allah dan relasi yang terputus diperbaiki, lalu bagaimana status hubungan manusia dengan alam semesta? Dalam imaginasi yang lain, sering kaum Kristen tidak peduli dengan keberlanjutan alam semesta karena terobsesi dengan Firdaus yang akan datang, bumi yang baru.  

Dalam penelitian Paul Santmire, tentang pemikiran-pemikiran Kristen tentang ekologi dan lingkungan dalam tiga dekade terakhir dan salah satu kesimpulan adalah bahwa Kitab Kejadian tentang penaklukan bumi adalah yang paling sering disalah pahami sehingga dengan mudah mandat penaklukan bumi berubah mentuk menjadi penghancuran ekologis dalam bentuk keji seperti ekosida (ecoside) dan biosida (biocide). Proposal dari Santmire adalah pembaharuan relasi yang baru antara manusia dan alam. Usulan Santmire adalah sebuah revisi atas teologi ekologis dan konsep etika lingkungan yang ada agar Kekristenan mampu menjadi pioneer dalam perbaikan lingkungan.

Namun dalam studi kritis ekologi, pendekatan Santmire disambut dengan pertanyaan seputar pendekatan dikotomis manusia versus lingkungan alam, seolah ke duanya terpisah atau bisa dipisahkan relasi eksistensinya. Pendekatan dikotomis ini sering dianggap sebagai pangkal masalah lingkungan dan fenomena pasifnya gerakan lingkungan dari kalangan Kristen. Fenomena yang kontras adalah misionaris dan kaum Kristen sibuk mencari jiwa yang hilang demi penebusan jiwa, sedangkan kaum environmentalists sibuk menebus firdaus yang hilang akibat visi sumber daya alam yang keliru. Tentu mata anda tidak salah mendapati buku-buku teologi Kristen Amerika Utara yang sering menempatkan environmentalist sebagai ‘setan’ sedangkan geologist dan sebagian profesi boros karbon lainnya sebagai pahlawan.

Lepas dari kritik terhadap usulan Santmire, konsep penebusan alam juga bagian penting dalam pembangunan dan perjalan iman. Panggilan Kristen untuk membawa damai serta mengasihi sesama manusia dalam abad ini menjadi semakin sulit terpenuhi khususnya ketika perspektif ekosida dan biosida (pembunuhan terhadap diversifitas biota-biota)  sering luput dari visi kasih dan damai.

Alam yang diciptakan Allah memiliki hukum yang tidak kompromistis. Sebagaimisal, hukum fisik iklim bumi sangat terintegrasi dalam satu sistim. Penggunaan energi fosil yang menghasilkan gas karbon dioksida secara berlebihan oleh negara-negara maju dalam 150 tahun terakhir mengakibatkan perubahan iklim global (pemanasan global) dengan implikasi lokal, di mana negara-negara miskin yang harus memikul risiko dari perubahan iklim. Kebakaran hutan masif di Indonesia (dapat dan telah) menambah persoalan global tersebut. Istilah awamnya adalah orang kaya menikmati manfaatnya, orang miskin memikul risikonya. Pemikul manfaat alam tidak turut menanggung risiko iklim. Kondisi ini bertentangan dengan semangat Kristen yang bertugas membebaskan yang lemah dan miskin dari ketidakadilan sosial, ekonomi maupun iklim. Karena itu GMIT perlu menyuarakan keadilan iklim dan keadilan ekologis sebagai perwakilan gereja-gereja selatan dalam menyadarkan gereja-geraja utara.

Lingkungan alam tidak merepresentasikan dirinya sendiri tetapi kepentingan manusia yang kebutuhan hidupnya 100% berasal dari alam. Kembali kepada petikan pada awal artikel ini dari Dewan Gereja Dunia satu dekade silam bahwa “Alam ciptaan menjadi ada kerena kehendak dan cinta Allah Tritunggal dan karenanya memiliki ikatan batin dan mengandung kebaikan.” Bila alam yang kelihatan saja tidak dihargai, bagaimana mungkin menghargai Allah yang tidak kelihatan?

Penutup

Natal 2009 baru saja berlalu. Seorang rekan dari NTT yang studi di Australia, mengirimkan foto elektronik, sebuah rumah di Adelaide Australia yang penuh dengan lampu-lampu natal mirip istana cahaya. Terlihat sangat indah. Namun dalam perspektif ekologi, istana cahaya tersebut merupakan wujud ketidakadilan ekologis dari jutaan orang di negara-negara berkembang yang masih hidup dalam “istana kegelapan“ tanpa listrik. Istana cahaya Natal tersebut juga merupakan bentuk kerakusan energi dan bentuk perusakan lingkungan berupa polusi udara berupa pelepasan karbon dioksida yang lebih besar.

Dalam mencari bahan-bahan berkaitan dengan topik ini, penulis terkejut karena tidak sedikit penulis Kristen dan teolog yang cenderung meletakan gerakan lingkungan sekedar sebuah gerakan politik atau seolah gerakan tidak berkaitan erat dengan nilai-nilai dasar seperti keadilan, kemanusiaan, kasih ataupun agenda mandat ekologis.

Wujud misi penebusan lingkungan tersebut bisa dilakukan dalam banyak hal mulai dari mempertahankan hutan desa, konservasi air dengan sistim biopori, advokasi tambang yang adil ekonomis tapi juga adil risiko ekologis, pengelolaan daerah aliran sungai, reboisasi, revitalisasi jalur hijau kota, hingga berbagai bentuk proteksi bio-diversitas berupa pelarangan bom ikan, termasuk penggunaan air tanah yang terbatas dan bertanggung jawab hingga penggunaan energi terbaharukan.

Tantangannya bagi gereja adalah bagaimana membuat keseimbangan prioritas antara menjalankan amanat agung dalam misi penebusan jiwa manusia dengan amanat budaya atau tepatnya mandat ekologis Kristen dalam misi penebusan lingkungan hidup, tempat di mana kita hidup dan menjalani panggilan hidup masing-masing. Ketika lingkungan rusak, penghidupan manusiapun tergangu, kelaparan dan kemiskinan menghantui. Dalam kondisi demikian dengan perut yang lapar dan kosong, orang sulit memahami apa arti khabar baik dari Allah. ***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: