Home » 2017 » July

Monthly Archives: July 2017

Orang Muda Dalam Jebakan Manusia Dimensi Satu

One Dimensional Man

“Hidup itu sebuah perubahan yang tak terelakan dari muda menuju tua. Masalahnya yang tua menjadi terlalu bijak, makin hati-hati, karenanya, hidup harus terus diulang dan diulangi lagi dalam hidup mereka yang muda, bila kemajuan mau dikejar. Orang muda memang tak tau banyak hal, cenderung latah dan tidak bijaksana. Karenanya, mereka mencoba yang tidak mungkin. Dan sejarah menjadi saksi bahwa mereka sering menggapai ketidakmungkinan. Dari generasi yang satu ke generasi yang lain.” Petikan di atas adalah dialog antara Edith dan Edwin, tokoh dalam The Goddess Abides yang ditulis Pearl S. Buck.

Dan artikel ini adalah sebuah spekulasi soal apakah orang muda dan belum lagi lurus kencingnya dan juga generasi yang akan datang  bisa membebaskan diri dari belenggu-belenggu peradaban kita. Dan apakah pemuda dalam konteks GMIT mampu melihat kekuatan-kekuatan yang mencengkram dan membelenggu yang melilit kaumnya?

Cengkraman Konsumerisme

Kita hidup dalam kontrol konsumerisme yang akut. Sedangkan media-media menjadi sekedar alat reproduksi ignorance yang diulang-ulang setiap hari. Media sosial yang awalnya diharapkan menjadi pemecah kebuntuan atas monopoli informasi tidak serta-merta terjadi. Justru sebaliknya: media sosial menjadi platform yang ramah atas mengalirnya ide-ide dan cara pandang yang mapan.

Kemapanan mendapatkan cakarnya yang jauh lebih tajam di media sosial. Dalam lilitan konsumerisme, dalam kontur sosial ekonomi yang timpang, manusia-manusia yang mempersembahkan hidupnya dari pagi hingga malam hari untuk menghidupi hidupnya tak mampu hidup selayaknya sebagai manusia.

Egalitarianisme masih terasa genit. Ada imajinasi bahwa media sosial adalah sebuah wilayah datar yang setara di mana semua sama-sama berdiri sejajar.  Ilusi soal sebuah daerah main yang sejajar-sedatar cukup membuat kita mabuk dalam momentum-momentum sosial politik – sebut saja pemilu dan pilkadal. Sedangkan momentum-momentum politik kemudian menjadi momentum keterpecahan antar individu hingga skala bangsa.

Di sini kita lihat konflik antar keyakinanpun adalah sekedar konflik antara users/supporters yang fanatis dengan produk-produk impor ditingkat personalised idea/product (keyakinan). Model konflik antara users ini dibawa pada skenario hidup-mati. Dan kelompok-kelompok dan atau lembaga-lembaga yang diharapkan lebih berdaya tahan seperti lembaga-lembaga keagamaan (organised faith) justru terseret dalam arus ekonomi politik tiada akhir. Dalam konteks GMIT, pertanyaannya di mana gereja dan pemudanya? Mengapa koruptor ulung begitu mudah (dan hampir kekal) dipilih jemaat bertahun-tahun dalam ritus politik? Dan mengapa pemuda begitu berharap sumbangan para bajingan politik?

Di dalam realitas mapan yang memegang monopoli atas definisi apa itu realitas, kita banyak bertemu manusia-manusia berdimensi satu, seperti kata Herbert Marcuse. Zombie adalah nama kerennya. Menjadi manusia berdimensi satu adalah bahaya terbesar yang dapat di hasilkan lembaga sosial dan keagamaan. Kompleksitas dunia yang jamak direduksi dengan satu cara pandang. Indonesia yang ragam cenderung didekati dengan pendekatan tunggal.

Dalam pandangan Marcuse, manusia berdimensi satu merupakan hasil produksi sistimatis dari para pengrajin politik (makers of politics) dan para manipulator informasi. “Wacana mereka secara sistimatis diisi oleh hipotesis mereka sendiri (self-validating hypotheses) yang di ulang-ulangi demi menghipnotis masyarakat luas” kata Herbert Marcuse lebih dari setengah abad silam. Fenomena ini dapat dilihat dalam perang media paska Pilpres 2014. Media sekedar menjadi corong para pengrajin politik, bukan publik.

Konsumerisme bukan soal masuk dalam jebakan konsumsi barang semata. Konsumsi ide hingga teologi impor yang masif-homogen membuat manusia menjadi mangsa atas saudaranya sendiri. Rasa enaknya makanan, gayanya pakaian hingga rasa bijaknya teologis, menjadi begitu seragam. Kecerdasan ditentukan olah seberapa hebat kita menghafal ayat dan menerapkan doktrin tunggal.

Kita sama-sama menjadi manusia tawanan. Kita membutuhkan orang muda yang mampu memecah kebuntuan-kebuntuan yang hidup. NTT memiliki jutaan orang muda, tetapi tidak banyak yang mampu berkarya dengan memproduksi sendiri.

Dapatkah kaum muda mengambil peran transformasi sosial dan ekonomi? Dan bagaimana orang muda mampu membebaskan kawanannya dari belenggu konsumerisme global dan belenggu status quo?

Berharap pada yang muda?

Kemudaan memiliki keuntungannya sendiri. Idealnya, kemudaan mengandung ruh risk taking (berani mengambil risiko). Tidak heran banyak orang muda dalam usia dua puluhan melakukan hal-hal yang tidak dibayangkan generasi yang mereka gantikan. Kita perlu risau bila muncul generasi muda yang penakut, takut mencoba, dan memiliki loyalitas pada status quo,dan sekedar menjadi penjaga tradisi dan ritus-ritus yang mungkin saja terkesan indah namun korup.

Pada saat yang sama, bila institusi sosial/keagamaan tidak mampu melahirkan orang muda yang kreatif dan inovatif, kita perlu bertanya, apakah tulang belulang berbalut darah-daging tanpa roh yang bekerja di depan kita? Bila dalam lingkungan anda di dapati ketiadaan generasi muda yang tangkas, imaginatif, gigih dalam soal-soal kemanusiaan dan kebangsaan dan kepekaan sosial dalam arti luas, saya kira gereja (dalam pengertian sempit dan luas) bukan hanya gagal, tetapi mungkin sudah mati.

Bagaimana mempertahankan nilai-nilai solidaritas bersama sebagai sebuah bangsa ditengah gejolak dunia? Dalam konteks Indonesia hari ini, kita tergoda bertanya bagaimana orang muda mampu menjadi ‘pembawa damai’ dan penjaga nilai-nilai hidup bersama di tengah situasi yang gampang tersulut karena semakin ditegaskannya perbedaan-perbedaan sosial paska perhelatan politik yang semakin rutin digelar?

Dan mengapa event politik Jakarta menjadi begitu dekat dengan kaum muda? Sebaliknya, mengapa realitas ketidakadilan dan kesengsaraan hidup manusia (baca: jemaat?) disekitar kita tidak mampu membuat energi mental kita terkuras untuk bergerak melakukan sesuatu? Mengapa begitu mudah di gerakan oleh simbol-simbol ciptaan elit? Tetapi tak mampu tergerak/menggerakan diri terhadap realitas sosial terperi di depan hidung? Mengapa terbangun mental asimetris: mendukung Ahok di layar kaca, tetapi tak mampu menggerakan anti-status quo di realitas di daerah sendiri?

Generasi Milenial Dalam Pusaran Perubahan

Mari kita melihat konteks di mana anak-anak millennial beroperasi dalam kemudaannya. Penduduk dunia bertambah dari hanya 0.5milyar di era reformasi Luther 500 tahun lalu menjadi 7.5 milyar setahun yang lalu. Dua puluh persen (1.5 milyar) dari total penduduk hari ini lahir setelah tahun 2000. Generasi ini sering disebut generasi milenial. Bila definisi orang muda kita persempit pada usia antara 15-24 tahun maka menurut statistik Perserikatan Bangsa Bangsa, ada sekitar 1.2 milyar orang muda. Namun definisi orang muda itu cukup cair tergantung konteks di mana anda berada. Bila definisi orang muda bisa berusia 15-45 tahun dan jumlahnya mungkin mencapai 3  milyar atau hampir setengah penduduk bumi saat ini.

Tujuan artikel ini awalnya adalah soal bagaimana pemuda dapat mengambil peran yang lebih dalam masyarakat maupun bangsa. Namun saya mencoba mengajak orang muda untuk memilkirkan beberapa hal mendasar terkait masa depan bangsa-bangsa maupun planet bumi. Ada empat perubahan besar yang perlu dipahami secara mendesak.

Pertama, perubahan ekonomi global yang kita kenal sebagai globalisasi ekonomi dunia, termasuk di dalamnya pergerakan arus informasi, arus modal dan tenaga kerja global yang menyertai serta pergerakan barang secara bebas dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Institusi formal maupun pasar memandang bahwa pergerakan tenaga kerja akibat globalisasi ekonomi dapat mengentaskan kemisikinan di negara-negara berkembang akibat kiriman uang dari para buruh migran ke negara-negara asalnya. Pergerakan ini memiliki implikasi-implikasi detail yang kita lihat saat ini. Selain cerita indah, tidak kurang kita memiliki cerita miris, termasuk jebakan perdagangan perempuan-perempuan NTT yang mencoba peruntungan.

Kedua, perubahan demografis atau kependudukan secara global. Negara-negara kecil di Afrika seperti Nigeria yang saat ini berpenduduk 175 juta orang akan berpenduduk 440 juta orang sebagaimana diperkirakan oleh PBB. Indonesia akan berpenduduk 366 juta orang di tahun 2050. Kota-kota seperti Kupang akan menampung lebih dari 1.5 juta orang. Perubahan demografis dan ekonomi di atas juga mengakibatkan meningkatnya mobilitas penduduk dunia yang bermanifestasi dalam banyak bentuk: pergerakan penduduk termasuk migrasi penduduk dunia yang lebih dari yang pernah kita lihat. Berdasarkan data World Tourism Organizations yang dirangkum dari 201 negara dalam lima tahun terakhir terlihat bahwa tiap tahun, ada peningkatan jumlah pelancong alias wisatawan internasional berdasarkan data ketibaan. Bila di tahun 1950 dunia hanya memiliki 25 juta pelancong, di tahun 2000 kita memiliki 674 juta pelancong. Lima belas tahun kemudian, kita memiliki 1.2 milyar pelancong. Sebagiannya adalah orang muda. Di 2050, diperkirakan 50 persen penduduk dunia akan jadi pelancong.

Bagaimana pemuda melihat trend pertumbuhan ekonomi global termasuk Indonesia yang masuk dalam catatan di mana pertumbuhan terjadi secara ekslusif alias yang kaya tambah kaya sedangkan yang miskin mungkin tambah miskin? Kita melihat hal ini dengan terang benderang di kota Kupang. Pertubuhan kelas menengah atas bertambah tetapi kalangan miskin berjalan ditempat. Bagaimana pemuda mampu berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja?

Ketiga, Perubahan iklim akibat konsumsi karbon makin tidak terkontrol membuat mitigasi perubahan iklim berjalan ditempat. Perubahan iklim merupakan masalah yang lain yang bertalian dengan tiga hal di atas. Akibat tekanan pada iklim lokal, ada kemungkinan produksi pertanian di pedesaan makin lebih goyah dan tidak stabil. Hal ini kemudian memfasilitasi terjadinya migrasi keluar dari desa-desa yang rentan kekeringan yang kita lihat di berbagai pedalaman NTT termasuk Timor Barat. Hal ini tentu bertalian erat dengan fenomena pelepasan lahan di kampung pada berbagai pada kapitaslis-kapitalis lokal baik dalam wajah pengusaha, aktor-aktor politik, pejabat-pejabat maupun aktivis LSM. Ditingkat lokal, kita bertanya bagaimana orang bisa hidup dengan lahan yang makin kecil. Ditingkat global, kita bertanya bagaimana memberi makan 10 milyar orang setelah tahun 2050an?

Keempat, revolusi teknologi informasi dan transportasi dalam skala yang berbeda. Perubahan teknologi internet dan media social dalam kehidupan manusia di awal abad 21 ini berjalan lebih cepat dari kemampuan kita memahami konsekuensinya.

Seringkali kita malas namun terus menghibur diri bahwa “tidak ada yang baru dalam matahari.” Saya melihat adalah celah dalam pemahaman soal generasi milenial saat ini. Sebelum bicara soal apa yang harus orang muda lalukan dalam hidupnya, mungkin kita perlu tanyakan hal yang lebih mendasar: sejauh mana masyarakat maupun gereja mamahami orang muda? Informasi apa yang dipakai dalam memahami generasi milenial saat ini? Apakah ada agenda sistimatis terkait upaya memahami orang muda hari ini di era digital – milenial ini?

Bagaimana mencegah pemuda menjadi manusia berdimensi satu? Bila kita harus menjelaskan peran apa yang perlu diambil pemuda hari ini, maka yang perlu ditegaskan adalah: Ditengah-tengah pusaran berbagai perubahan di atas bagaimana orang muda tetap kokoh dalam membangun agenda-agenda yang penting dalam menciptakan berbagai perubahan-perubahan yang perlu. Misalkan, bagaimana pemuda gereja berkontribusi dalam pengurangan ketidakadilan di berbagai level dan aras: akses pada lapangan kerja, kesetaraan gender, keadilan ekologis, ekonomis dan kesenjangan sosial.

Ditingkat yang lebih praktis mungkin lebih sulit diukur karena hambatan status quo – yakni  ‘bisnis model’ atau model pengelolaan jemaat muda yang berjalan sebagai alat pelengkap penderita. Bagaimana mungkin mengelolah orang-orang muda tanpa ada sumber daya yang jelas? Bagaimana kondisi sekolah-sekolah kita di kampung-kampung? Bagaimana memberi jawaban atas persoalan-persoalan praktis dan strategis nan kompleks sedangkan kita tidak tau apa pertanyaannya?

Saya memang meminjam cara pandang Herbert Marcuse yang terkenal dengan bukunya One Dimensional Man, sambil berutopia bahwa masa depan kita masih mungkin bisa dibentuk ulang dengan semangat yang lebih menghargai perbedaan-perbedaan. Jangan kuatir, pemahaman saya tentang utopia bukanlah versi renta. Utopis yang emansipatoris adalah proyek penciptaan ruang mental yang empowering (menguatkan) –  yang perlu diciptakan untuk melihat yang tidak mungkin menjadi sesuatu mungkin di masa depan. Dan karenanya kami berharap pada orang muda untuk melakukan tugas tranformasi sosial.

Selamat Hari Kemerdekaan RI 72

*Tulisan ini dipersembahkan kepada Majalah GMIT Edisi Augustus 2017.

Tips Mencari Pembimbing / Promotor PhD di luar negeri

Tips Mencari Pembimbing / Promotor PhD di luar negeri

Tips Mencari Pembimbing / Promotor PhD di luar negeri

Oleh JA Lassa

Sinopsis [tulisan pertama]: Mana yang anda pilih? memilih PhD promotor/supervisor yang sangat terkenal dan setengah dewa? Atau memilih supervisor yang masih muda, ambisius dan mau bertumbuh bersama dengan anda? Artikel ini membahas untung rugi dua pilihan ini serta strategi tentang bagaimana mencari pembimbing yang tepat.

Pernah bermimpi melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral alias S3 di luar negeri? Mengapa tidak anda coba-coba untuk bermimpi. Tak perlu hemat dalam bermimpi. Atau, anda tidak pernah bermimpi menjadi doktor setelah menempuh S2? Jangan kuatir anda tidak sendirian! Saya tentu pernah tidak mampu bermimpi soal S3 kecuali setelah dua semester terakhir S1 di Kupang dulu. Tetapi mimpi itu pun tidak selalu final di tiap waktu.  Setelah menempuh S2 di UK 2005 (Beasiswa Chevening) dan sering terekspos dengan para senior di kampus, dan mendapati mereka bukan sekeramat yang dikira, saya pikir ada gunanya mencoba. Toh, “Hidup adalah rangkaian percobaan, biarkan nasib menjadi penentunya” (Eka Kurniawan dalam “O”). Atau bila anda tidak percaya pada obsolutisme takdir, maka biarkan semesta langit bumi dan penciptanya yang menjadi penentu di atas percobaan anda.

Tiga hal utama tentang bagaimana memilih/memulai pendidikan doktor adalah pertama, anda mesti memiliki panggilan untuk berbakti pada pengetahuan dengan melahirkan pengetahuan baru. Idealnya harus ada sesuatu kebaruan, ada celah dalam pengetahuan yang setelah anda teropongi, anda terpanggil dan secara aktif berkontribusi  menutupi celah ilmu tersebut. Kedua, anda wajib mencari tempat alias lingkungan (rumah) yang tepat. Apakah universitas bersangkutan memiliki program pengembangan kapasitas yang baik buat mahasiswa doktor? Karena soal perjalanan riset doktoral bukan semata menulis tesis, tetapi tentang kesempatan membangun dan mengembangkan diri. Ketiga, mencari calon pembimbing atau promotor yang tepat.

Hal pertama di atas adalah wajib, namun terkadang menemukan celah bisa ilmu bisa dilakukan dengan bergabung pada proyek-proyek riset doktoral yang sudah diidentifikasi dan sedang call for applicants (lihat contoh di UK). Bila anda melamar sebuah posisi PhD yang diiklankan dengan topik yang sudah ditentukan, maka supervisor anda kemungkinan besar adalah pimpinan proyek atau profesor yang memimpin riset tersebut. Model proyek PhD begini biasanya lebih jelas. Tetapi tidak berarti lebih mudah.

Langkah kedua di atas bisa anda lakukan riset online tentang jurusan dan bidang kajian spesifik yang anda minati yang tersedia di bawah kolong langit ini. Misalkan, bila anda mencari pembimbing studi bencana, maka ada sekitar 50an universitas di dunia yang menawarkan berbagai program pascasarjana berbasis riset. Proses ini harus mengerucut pada short listing program/topik riset S3 yang anda minati pada universitas-universitas di atas. Anda juga perlu mencari profil para pengajar/profesornya. Tentu yang menjadi daya tarik adalah dua-duanya: dosen/profesor yang mengajar/meneliti maupun reputasi jurusan/universitasnya.

Bila langkah pertama (topik riset) sudah mantap, anda perlu investasi waktu menuliskan secara ringkas tujuan riset anda, pertanyaan penelitian yang ‘sexy’ (bisa yang belum pernah diajukan sebelumnya atau bisa pada potensi menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yang bernilai jutaan dolar (million dollar questions).

Langkah kedua di atas bisa di abaikan bila anda mampu mendapatkan calon pembimbing/promotor bagi anda. Di Jerman, anda bisa mengikuti/diterima di program doktoral sebuah universitas / pusat riset lalu universitas yang menjadi mak comlang untuk mempertemukan anda dengan pembimbing utama anda. Model PhD seperti ini punya risiko: anda tidak bisa memprediksikan supervisor macam apa yang anda pilih. Tugas anda jelas tidak mudah untuk membuat si pembimbing terkesan dengan kerja anda selain kerja kerja keras yang estra tetapi juga smart.

Model yang lain tentu bisa ditempuh, tergantung konteks. Yang lumrah adalah anda mengontak dan mendapatkan calon supervisor yang bersedia membimbing anda, lalu anda melamar secara formal di universitas host tempat supervisor tersebut mencari makan. Dalam proses melamar, tentu anda perlu mencantumkan secara jelas calon supervisor sehingga memudahkan administrasi di universitas tujuan untuk tidak secara acak tetapi menunjuk calon supervisor yang sudah membangun jalur komunikasi (in)formal dengan anda.

Hidup adalah soal memilih. Tidak mudah untuk semua hal. Anda mau memilih universitas dengan ranking dan reputasi tinggi dengan profesor yang juga setengah dewa? Sangat mungkin anda mendapati dua atau lebih bakal calon pembimbing dalam sebuah universitas. Bila anda sudah jelas pada short listed universitas dan calon pembimbing, bagaimana anda memutuskan si Profesor A atau si Dr B?

PhD adalah soal perjalanan melewati lembah gelap. Kompas anda adalah pertanyaan penelitian anda. Arah lebih penting dari gerak. Anda membutuhkan peta, team pendukung dan petuah. Karena itu wajib supervisor anda bisa bekerja sama secara  profesional sekaligus bersahabat sepanjang perjalanan melewati lembah tersebut.

Tetapi soal arah, bagi saya bukan sekedar kompas kecil (pertanyaan penelitian) yang membantu anda menemukan ‘utara yang sejati” dari penelitian anda. Seharusnya ini juga soal “utara yang sejati” dari masa depan anda – memenuhi tujuan hidup anda setelah PhD: apakah anda terpanggil menjadi akademisi? Bila ya, di mana anda bermimpi menjadi akademisi? Karena modal PhD tidak cukup untuk masa depan anda.

Sebagai contoh. Saya memiliki dua teman yang mengambil PhD di sebuah negara tempat saya bekerja saat ini. Sebutlah si X, sejak awal memang memilih universitas Top Tier (Kelas 1), dan juga seorang pembimbing setengah dewa (profesor yang masyur) dengan seabrek prestasi dan puluhan buku. Model memilih seperti ini model yang lumrah. Jujur saja, siapa yang tidak suka memiliki almamater mumpuni? Masyarakat awam akan terpukau.

Sedangkan si Y, memilih universitas Second Tier (Kelas 2) dengan pembimbing yang masih berstatus sebagai dosen senior dan masih muda namun juga ilmuan prospektif. Di negera tempat saya bekerja, dosen senior dengan “research active” status itu setara  assistant profesor level senior.

Si X memilih menjadi birokrat di kementrian. Hampir tidak memiliki publikasi peer review journal. Anda tentu bertanya: apa artinya Harvard atau MIT bila karya hanya sejilid tesis dan selembar ijazah? Boleh-boleh saja. Tetapi tidak sesedarhana itu. Sedangkan Si Y, kemudian tamat dengan belasan paper termasuk beberapa peer review articles. Hal ini kemudian mengantarkan si Y ke level post-doctoral bergengsi dan kemudian membawanya pada posisi akademik selevel assisten profesor.

Saya pribadi pernah mengalami situasi yang kira-kira berada di antara dua situasi di atas. Pembimbing saya adalah profesor yang masyur, wakil rektor, yang jarang berada di kantor. Makluk setengah dewa. Yang tidak terlalu termotivasi untuk publikasi bersama. Sebuah paper baru mirip menambah garam pada air laut yang sudah asin. Situasi ini saya sadari. Saya harus berjuang sendiri untuk publikasi, walau tidak banyak karena harus juga hidup sebagai social entrepreuner dengan agenda yang bukan melulu akademis.

Saya mendapati beberapa rekan saya dengan pembimbing yang lebih muda dan memiliki semangat kerja team yang baik cukup sukses dalam membangun publikasi secara bersama. Tidak heran salah seorang rekan saya seangkatan berlabuh dan bekerja di sebuah think tank top di kota Washington. Bisa anda bayangkan, PhD tiga tahun tepat waktu dan 10 peer review paper di tangan dan sering menjadi lead author! Siapa yang tidak tertarik mempekerjakan young PhD fellow seperti ini?

Tentu saja dua model di atas bukanlah binari model. Ada varian lain dari soal model pilihan pembimbing dan aspirasi dan visi mahasiswa PhD bersangkutan. Sebagai misal, beberapa mengambil model bekerja dalam proyek-proyek akademis sambil menulis PhD. Model yang lain mahasiswa PhD yang hanya fokus pada menulis tesis secara cepat dan berambisi selesai 2 tahun lebih sedikit (Tanya: mengapa harus cepat-cepat?). Salah satu senior saya dengan inisial RJK adalah model yang lebih ekstrim: butuh sepuluh 10 tahun untuk menulis sebuah tesis yang hanya 50 halaman. Tetapi semuanya adalah ringkasan dari 40 peer reviewed papernya tak terhitung belasan laporan riset yang diikutinya dalam sepuluh tahun tersebut. Dan hanya membutuhkan 1-2 tahun menjadi profesor riset penuh setelah PhDnya.

Pertanyaan tidak berhenti di sana. Misalkan, ada yang bertanya: “Saya diterima di Europe/Jerman, Australia dan juga di USA. Ke mana saya harus pergi?” Hal ini tidak mudah di jawab. Dan akan saya coba jelaskan di blog post berikutnya.

Bila anda bermimpi menjadi social entrepreuner atau menjalankan sebuah think tank di kota anda setelah PhD, tentu saja ada banyak hal lain selain tulis paper, di bawah ketiak profesor yang terkenal dan bersekolah di universitas top. Toh, di akhir cerita, ini adalah soal ke mana anda ingin pergi setelah PhD? Namun mungkin yang paling hakiki adalah, untuk apa PhD? Untuk apa investasi sebesar Rp. 2-3M hanya untuk sekedar gelar dari universitas bergengsi?

Bila anda bermimpi menjadi akademisi yang berkontribusi pada perubahan sosial, dan berkontribusi pada pembangunan wacana alternatif dalam public space di propinsi atau kota anda, mungkin anda tidak harus bertanya soal perlu tidaknya PhD. Karena di atas semuanya, soal perjalanan ke PhD adalah soal panggilan pribadi dengan tanggung jawab pribadi. Tiap pilihan selalu ada konsekuensi.