Home » 2017 » September

Monthly Archives: September 2017

Mengenal Sejarah Tacoma Narrows Bridge, Washington State

DSC03490

Photo: J Lassa

Tidak masalah bila anda salah mengira. Ini memang soal romantisme. Walaupun jembatan Taccoma Narrows Bridge (TNB) yang baru (selesai 2007) ini tidak masuk dalam daftar tujuan wisata mainstream bagi pengunjung di Seattle, saya memasukannya dalam daftar pertama untuk dikunjungi. Selain penggunanya yang melintasi Tacoma dan Tanjung Kitsap di Washington State, mungkin hanya mereka yang jogging dan orang-orang aneh yang pernah mengenyam pendidikan teknik sipil khususnya yang sempat mengambil mata kuliah Dinamika Struktur maupun Disain Jembatan yang mengingat dan mengunjunginya. Bill, seorang bapak yang uzur, bingung mendengar pertanyaanku soal arah TNB bila harus berjalan kali dari perhentian bus yang terakhir di 6th Avenue di Tacoma.

TNB tidak seelok sepupunya seperti Manhattan Bridge di New York City atau Golden Gate Bridge (San Francisco), apalagi mau disandingkan dengan keterkenalan Seri Wawasan Bridge (Putrajaya, Malaysia) ataupun The Helix Bridge di Singapura.  Tetapi kegagalan strukturnya di era awal perang dunia ke dua menjadi soko guru dalam disain jembatan-jembatan serupa (suspension bridge alias jembatan kabel). Bukan karena ledakan perang dunia ke kedua atau gempa, tetapi runtuhnya TNB pertama akibat angin sepoi-sepoi empat bulan setelah konstruksi tepatnya 7 November 1940. Kecepatan anginya hanya sekitar 65-70km per jam (Bandingkan Cyclone Kategori 1 yang ‘hanya’ berkisar antara 90-120 km/jam); atau kategori 5 yakni di atas 280 km/jam).

Dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu, mungkin karena modeling komputasinya belum terlalu maju, textbook kebanyakan menyalahkan fenomena resonansi, istilah dalam studi dinamika struktur. Contoh bagi awam seperti keran air saya yang kalau dalam kondisi full speed, tidak ada getaran dan tidak ada air yang bocor keluar. Tetapi bila dalam kondisi perlahan, bunyi keran waktu menyiram bunga cukup besar dan sering diikuti dengan bocor. Contoh yang lain bisa anda lihat sepeda motor yang pelat nomornya longgar. Bila motor larinya perlahan, ributnya bukan main. Tetapi bila kebut dengan kecepatan stabil, hampir tak terdengar ataupun terlihat ada getaran.

Dalam bahasa teknisnya, resonansi adalah sinonim dari frekuensi alamiah (natural frequency). Secara teoritis, jika sebuah struktur (fisik jembatan atau bangunan) yang mengalami beban getar (vibrasi) sebesar frekuensi alamiahnya, maka akan terjadi perpindahan (istilah tekniknya displacements) pada tingkat maksimum alias resonansi. Semakin besar resonansi, tegangan pada struktur tersebut makin membesar. Daerah-daerah sambungan pada struktur tersebut akan mengalami kegagalan.

Akar masalah kegagalan sebenarnya bermuara pada penghematan biaya yang awalnya untuk aman mesti berharga US$ 11 juta (setara 192 juta dollar hari ini) menjadi US$ 8 juta (setara 139 juta dollar). Jadi akibat defisit 53 juta dollar (nilai hari ini), keamanan jembatan dikompromikan.

hummer-falling-off-tacoma-bridge-68455

Masalahnya mulai diketahui ketika masa pengerjaan jembatan ini. Berbagai upayapun dilakukan. Tetapi solusi yang tepat tidak mendapat jalan di tangan pengambil kebijakan proyek. Dari video di atas terlihat jembatan secara keseluruhan mengalami torsi.

Singkat kata, para ilmuan baik Fisika maupun Teknik Sipil dunia kemudian meninggalkan konsep resonansi. Tulisan tulisan yang terbaru setuju soal pengaruh angin (aerodynamic effects) pada pembentukan gaya torsi (puntir) jembatan ini. Tetapi penjelasan ini saja tidak cukup. Ada karakter relasi kompleks yang membentuk semacama kombinasi aerodynamics-aeroelastics di mana terjadi amplifikasi (pembesaran) torsi mengayun yang meningkat dengan kecepatan angin. Ada semacam fenomena vortivitas (yakni kecenderungan partikel cair untuk rotasi / sirkulasi pada titik tertentu) dalam skala besar yang berada di atas dan bawa dek jembatan. [Silahkan lihat Arioli and Gazzola 2017]

Bersambung!

 

Penghancuran Kreatif dan Orisinalitas Warby Parker

DSC03807

Mengapa kacamata dengan disain sederhana dengan material yang tidak kompleks berharga lebih mahal dari smartphone maupun laptop anda gunakan sehari-hari?  Laptop dan smartphones membutuhkan berlapis teknologi sedangkan kacamata teknologinya sudah hampir 900 tahun, tepatnya sejak abad 3 di Italia. Pertanyaan itu muncul ketika David Gilboa antri membeli iPhone disebuah Apple Store.

Pertanyaan itu kemudian menginspirasi tiga teman lain yang sama-sama fresh graduate MBA Wharton School, University of Pennsylvania, yang kemudian bergabung mengikuti program start-up bernama Venture Initiation Program dengan dana awal  $2,500 (Rp. 30 juta) di tahun 2010. Mereka adalah Neil Blumenthal, Andy Hunt and Jeff Raider yang mendirikan Warby Parker. Jangan kuatir kalau anda belum mendengar cerita tentang mereka. Singkatnya, Warby Parker adalah perusahan kacamata yang berdiri tahun 2010 dan menuai sukses besar 6 tahun terakhir. Yang menarik mereka berempat tidak memiliki pengalaman e-commerce, teknologi informasi maupun pengalaman penjualan ritel dan sejenis. Websitenyapun baru siap beberapa jam menjelang peluncuran.

Dengan visi menjual kacamata dengan harga di bawah $100 yakni hanya 20% dari rata-rata harga kacamata di toko mainstream, mereka menuai sukses. Singkat cerita, mereka masuk dalam perusahaan paling innovative tahun 2015 dalam peringkat Fast Company, mengalahkan Google, Samsung, Apple dsb. Saat ini nilai perusahaan mereka mencapai lebih dari 1 milyar dolar.

Latar belakangnya tentu ada. Seperti biasa, mahasiswa MBA banyak yang ngutang alias berhutang. Mencari pengganti kacamata berarti harus hilang $500 (alias Rp. 6.5 jutaan). Salah satu dari mereka (kemungkinan David) punya masalah kacamata. Framenya bahkan diikat dengan paper clip. Mereka bersama melakukan riset. Mencoba mencari tau siapa mendominasi bisnis kacamata. Diketahui kemudian bahwa Luxottica mendominasi bisnis kacamata termasuk memiliki banyak perusahaan dengan nama lain termasuk Oakley mapun Ray-Ban. Riset mereka juga memberi tahu bahwa keuntungan rata-rata per kacamata adalah hampir 20kalinya. Jadi bila kaca mata berharga Rp. 5 juta, kemungkinan harga aslinya hanyalah Rp. 250 ribu. Toh dengan struktur/frame yang seadanya kita bisa dapatkan hanya Rp. 20 ribu khan? Masuk akal!

Mereka paham bahwa hukum/aturan dan sistim diciptakan orang. Sedangkan kebanyakan kita atau sebagian kita bertumbuh tanpa menanyakan status quo. Untuk sukses, kata Adam Grant, orang butuh “kecerdasan jalanan” dan bukan sekedar “kecerdasan buku”. Tentang “kecerdasan buku”, kita punya banyak catatan tentang orang-orang kampus (baca: dosen) yang tidak punya kemampuan melakukan perubahan bahkan ditingkat mengatakan tidak pada sistim kampus yang korup. Bayangkan soal dosen yang tak pernah mampu menjual apapun namun mengajarkan marketing yang tidak menarik hati mahasiswanya. Mengajarkan hal-hal yang sama bertahun-tahun tanpa tahu sebagian hal di luar sana sudah berubah. Masalahnya kampus-kampus sering mencoba mencetak alumni yang hebat dalam menghafal diktat dosen. Murid-murid dan mahasiswa mainstream lebih senang bertumbuh menjadi hewan piaraan dosen-dosen mereka dan tunduk pada semua yang dikatakan. Mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah bertanya bagaimana dosen-dosennya mendapatkan pengetahuannya, tidak mungkin menjadi seorang revolusioner.

Dalam dunia orang tua, siapa yang tidak senang anak-anaknya mampu hitung secepat kalkulator? Siapa tidak bangga anak begitu patuh pada semua yang dikatakan orang tuanya? Siapa tidak bangga anak bermain piano mirip Bethoven? Adam Grant kemudian menambahkan bahwa “pratice makes perfect, but it doesnot make new”. Dan anak-anak patuh tidak mungkin mencitptakan creative destruction! Saya memilih menterjemahkan creative destruction sebagai penghancuran (bukan sekedar kehancuran) kreatif.

Adam Grant adalah pengajar dari ke empat pendiri Warby Parker di atas yang menulis secara jujur bagaimana ketidakyakinannya atas rencana bisnis kacamata online ini yang diusulkan dari ruang kelas setahun sebelum di luncurkan.

Cerita di atas saya ambil dari buku yang saya beli:  Original: How non-confirmist move the world (oleh Adam Grant) dari Amazon Books store di University Village, Seattle. Cerita ini memang menambah koleksi cerita David melawan Goliath yang sering terulang dalam tiap zaman. Salah satu buku yang menarik hati adalah David and Goliath oleh Malcom Gladwell yang saya beli di Kinokuniya Singapore tiga tahun lalu.

Cerita Warby Parker dalam Original di atas hanya salah satu cerita dan puzzle soal bagaimana para kepala batu yang melek riset (informed optimist / informed non-confirmist) mampu melakukan perubahan dan sukses. Buku yang penting di baca oleh mereka yang mau belajar mendirikan start ups di usia muda maupun senja. Sangat di rekomendasikan!