Home » book review » Being Mortal – Memilih Terminal Terakhir

Being Mortal – Memilih Terminal Terakhir

9781846685828-e1507450842580.jpg

Kita memang tidak pernah memilih tempat lahir! Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita lahir. Bagi yang melahirkan maupun yang dilahirkan sama-sama seperti menang lotre ataupun kalah judi. Yang membuat semuanya lebih baik adalah cinta. Dan artikel ini memang bukan tentang cinta. Tetapi tentang terminal terakhir hidup anda: di mana anda ingin hidup anda berakhir? Rumah sakit? atau rumah sendiri? Setidaknya tentang pilihan ini, kita bisa sebisa mungkin melawan takdir – bukan soal harus matinya, tetapi soal memilih mati di mana.

Membaca Atul Gawande dalam Being Mortal – Medicine and What Matters in the End, membawa kita bertanya soal the geographies of dying dan pelembagaan fase sekarat dalam hidup manusia. Membayangkan evolusi pelembagaan kematian dan proses-prosesnya. Dari tradisi ratapan dengan paduan tangisan ala Mollo di Timor, hingga proses ritual yang mirip dengan jejeran orang-orang antri menuju terminal akhir dari hidup ini. Buku ini wajib di baca mahasiswa kedokteran.

Entah mengapa, terminal itu bernama rumah sakit. Di sana, tiga elemen utama bekerja: kedokteran/medis, teknologi dan gerombolan orang asing. Dan karenanya, dalam banyak hal, rumah sakit atau nursing home berbeda tipis dengan penjara! Setidaknya Eving Goffman, Sosiolog Kanada, suatu ketika melihat kombinasi ketiga elemen di atas sebagai sebuah fenomena ‘total institution’ – yang saya coba definisikan sebagai sebuah fenomena di mana manusia di putus hubungannya dengan komunitas sosialnya, setidaknya untuk sementara waktu atau dalam sisa waktunya, hidup dalam sebuah dunia buatan yang menjadi sangat formal transaksional – administratif, terasing tanpa kehangatan sosial.

Seperti kebanyakan kita salah mengira, paman saya juga pernah berpikir bahwa orang jaman pra kemerdekaan dulu, manusia hidup lebih lama dari jaman kita. Saya lalu mengklarifikasikan secara sopan bahwa secara rata-rata, jaman kita memang hidup lebih panjang. Sulit membayangkan orang-orang jaman dulu hidup dan mampu menyetir hingga umur 80an. Hari ini, baik profesor pembimbing saya hingga ayah kandung saya masih mampu menyetir ratusan kilo meter di umur 70an. Di Australia dan Europe dengan mudah kita melihat orang-orang menyetir hingga akhir 80an.

Memilih di mana kita akan mati ini bukan sekedar sebuah pilihan yang terkonstruksi secara sosial. Tetapi menjadi topik kebijakan publik yang tidak banyak di ajarkan di kampus termasuk ilmu kedokteran. Orang Kanada pada suatu waktu memilih untuk mati bersahaja di rumah sendiri. Di Australia, pertanyaan ini sering di ajukan dan kebijakan publik belum terlalu berfokus pada diskusi yang lebih dalam. Sebagian besar orang Australia memilih meninggal di rumah sendiri, pemerintah berpikir sebaliknya: rumah sakit. Tahun anggaran 2011/2012, pemerintah mengeluarkan A$ 2.4 miliar untuk hospital care bagi mereka yang sedang berbaris menuju titik akhir.

Atul Gawande mengulas fenomena yang serupa terjadi di Amerika Serikat. Hingga tahun 1945, mayoritas meninggal di rumah sendiri. Di tahun 1980, hanya 17 persen orang meninggal di rumah. Sisanya di rumah sakit. Jangan mengaku anda seorang dokter yang berwawasan bila belum membaca buku yang informatif ini. Bukan sekedar promosi soal pentingnya palliative care, tetapi tentang kedokteran dan kehidupan itu sendiri.

Buku ini menarik karena sebagai seorang dokter, Gawande berkonsultasi dengan banyak disiplin baik kebijakan publik, sosiologi hingga filsafat. Tidak heran buku ini menjadi best seller.

Yang memiliki orang tua di atas umur 1965, buku ini penting bagi anda. Tentu dilema soal karir, anak-anak, dan mandat sosial menjaga orang tua hingga hari terakhir bukan hal mudah. Dalam banyak hal, transisi sosial di mana para orang tua dari hidup bersama keluarga besar yang kami saksikan di banyak tempat di Asia perlahan-lahan akan berganti pada transisi pada tempat tinggal khusus para senior. Teman sekantor saya barusan membagikan pengalaman di mana ibunya menjual rumah lalu pindah ke properti khusus lansia. Sebuah proses yang sulit karena keduanya hidup bersama dalam waktu yang sangat lama. Sebuah keputusan yang tidak mudah bagi ke dua belah pihak.

Bagi mereka yang mau mempersiapkan diri menuju ketuaan buku ini membantu anda melihat perubahan-perubahan anda, termasuk defisit-defisit natural dari penglihatan (mata) hingga gigi, kestabilan kaki menopang tubuh anda hingga defisit memori anda. Yang utama adalah soal keberanian menghadapi fase akhir dari hidup anda sebagai manusia.

Seorang rekan saya barusan berujar bahwa dia bertekad untuk suatu hari nanti tidak meninggal di rumah sakit. Ia barusan menjadi Budhist. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sempat memiliki rekan-rekan budhist di Singapura yang gagah berani melihat kematian sebagai sebuah proses transformasi yang normal. Dia mengamini bahwa mindful dying adalah agenda hidup yang juga ia pelajari dari gurunya di Nepal. Dia menambahkan bahwa “barat membuat kematian sebagai sesuatu yang menakutkan”. Saya menyarankannya membaca buku ini. Juga untuk anda.

Tetapi soal buku di atas, ia juga berbicara soal bagaimana menjadi manusia dalam segala kesahajaannya menghadapi fase terakhir dalam secara lebih manusiawi. Tidak harus terkungkung dalam tradisi perawatan kedokteran yang menjadi mesin dan institusi yang dingin. Hal yang dalam banyak hal tidak dipahami dokter-dokter jaman sekarang – setidaknya menurut si penulis buku.

 

 

Advertisements

1 Comment

  1. Stiwi Boymau says:

    Keren memang. Pembahasannya mirip ceramah Pdt. Joshua Lie, M. Phil, Ph.D dalam Hospitality, The Body n Soul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: