Home » 2019 » March

Monthly Archives: March 2019

Bias kognitif pelaku korupsi dan operasi tangkap tangan KPK

Untitled

Meresponi berbagai operasi tangkap tangan (OTT) termasuk ditangkapnya petinggi partai dan anggota DPR senayan hari ini, kembali masyarakat mempertanyakan soal mengapa tidak ada efek jera dari pihak koruptor dalam mengambil uang rakyat secara tidak halal. Respon bermacam-macam.

Singkat saja. OTT KPK tetap perlu ada hemat saya. Riset psikologi terkini tentang bias kognitif memberi informasi yang detail soal perilaku biologis manusia. Seorang pencuri yang tertangkap kerap merasa dirinya lebih lihai dari pencuri lain hingga tertangkap. Dan seorang koruptor akan selalu merasa lebih aman dari rekan koruptor lainnya hingga hari ia tertangkap.

Dialog ini menjadi begitu berulang di sosial media. Termasuk manalaka salah satu kandidat kontestan yang akan bertarung dalam Pilkada Gubernur NTT tahun yang lalu, rekan Luky Djani mengomentari di Facebooknya soal OTT dengan plesetan “Oknum Tidak Takut?” Luky berpendapat sebagai berikut “Kekhawatiran saya nampaknya menjadi kenyataan. Dalam setahun terakhir OTT telah memakan korban puluhan orang. TAPI efek jera, apalagi perbaikan sistem tak terjadi dgn sendirinya dan secara sistematis. Sebaiknya OTT ditinggalkan karena strategi atau instrumen ini telah mengalami inflasi dan nir efek jera. Antusiasme publik pun merosot karna OTT melulu menjadi repetitive repertoire. Perlu upaya ekstra utk menyelami dan memahami pola pikir para koruptor dan modus dari corrupt exchanges. Mungkin Eric Hobsbawm, Anton Blok, Diego Gambetta atau Howard Abidiensky bisa menjadi Pandu bagi Kita.”

Tentu saja, respon di Media Sosial merupakan sebuah respon cepat yang mungkin tidak terlalu tepat di tanggapi secara serius. Dan karena di minta bung Luky, saya pun menanggapi seadanya saja sesuai bidang studi yang saya geluti, studi risiko dan bencana. Dalam studi risiko, rekan-rekan peneliti psikologi risiko memberikan sebuah konsep yang luar biasa penting soal konsep cognitive bias. Konsep bias yang terkenal adalah optimism bias. Dalam dunia nyata teori optimism bias menjelaskan soal harapan yang kira-kira seperti ini: hal-hal buruk atau pun risiko/bencana yang berulang (seperti tsunami, gempa, hingga ketidak beruntungan seperti OTT korupsi, kanker akibat rokok, kecelakaan mobil dsb) yang di alami orang lain tidak akan kena pada diri saya sendir (it will never occur to me). Ini alasannya mengapa orang cenderung membangun kembali rumah di daerah bahaya tsunami ataupun banjir. Selain karena risikonya tidak terlihat mata telanjang, manusia sering berharap bisa beruntung dalam mengabaikan ancaman alam karena sering diselamatkan oleh keberuntungan yang bersifat probabilitas. Mengemudi tanpa sabuk; kembali merokok sambil berharap tidak kena kanker paru; kembali mencuri sambil berharap tidak ditangkap; dan tentu kembali melakukan operasi sogok sambil berharap bisa bebas OTT.

Rekan saya di Charles Darwin University, Dr Simon Moss, sering memberikan contoh-contoh optimism bias dalam kuliah bahwa “seorang perokok cenderung merasa kemungkinannya kena kanker paru lebih kecil dari para perokok lainnya; pengendara motor merasa lebih kecil kemungkinannya mengalami kecelakaan ketimbang pengendara yang lain; dan manusia cenderung merasa kurang rentan pada berbagai ancaman lingkungan termasuk bencana, polusi dsb. ketimbang rekan-rekannya.

Tentang Cognitive Bias dan Optimism Bias

Optimism bias dijelaskan dengan sangat baik oleh Tali Sharot dalam sebuah edisi Current Biologi 2011: yakni bias yang didefinisikan oleh perbedaan antara harapan dan hasil/capaian seseorang; Jika ekspektasi lebih baik dari realitas, bias-nya bersifat optimistik. Sebaliknya bila realitasnya lebih baik dari ekspektasi, hasilnya adalah pesimistis. Natur dari bias di atas bersifat biologis dan bisa dijumpai dalam studi serupa terhadap burung (Lihat Stephanie Methason dkk 2008). Sharot dan rekan-rekan menemukan bahwa otak manusia cendrung berperilaku sebagai berikut: ketika diberi informasi yang diingginkan (desirable) tentang masa depan (berbasis pada kemungkinan mengalami risiko kanker lebih kecil dari yang diantisipasi)  orang cenderung meng-update kepercayaannya pada tingkatan yang lebih tinggi ketimbang menerima informasi yang tak dikehendaki (ketika mendapati bahwa kemungkinan mengalami kanker lebih besar dari yang di antisipasi). Temuan Sharot dkk menemukan bagaimana wilayah otak (khususnya frontal lobe) menelusuri kesalahan estimasi (perbedaan antara kepercayaan sebelumnya tentang masa depan dan informasi yang diberikan saat ini).

Cognitive bias adalah sebuah pola sistimatis tentang penyimpangan dari cara berpikir rasional karena fenomena subjective probability (Lihat Kahneman dan Tversky 1972). Manusia cenderung mengkonstruksikan realitas sosial yang subyektif  berdasarkan persepsinya atas input informasi. Manusia cenderung melakukan self-serving bias di mana kita cenderung mengklaim tanggung jawab yang lebih terhadap keberhasilan ketimbang kegagalan. Teori tentang bias ini cukup terkenal dengan karya-karya besar dalam studi behaviorial economics yang pelopori Daniel Kahneman (pemenang Nobel bidang ekenomi 2002) dan bisa juga anda lihat karya serupa dalam Nudge oleh Richar Tahlers (U-Chicago) dan Cass R. Sunstein (Harvard) yang juga penerima Nobel ekonomi 2017.

Kembali ke OTT

Kembali kepertanyaan: apakah KPK perlu menghentikan OTT? Apakah OTT tidak menimbulkan efek jera?

Dua hal yang perlu dijelaskan di sini. Pertama ilusi optimistic bias menimpa siapa saja termasuk para koruptor dan calon koruptor yang (sudah/sedang/akan) terkena tangkap tangan. Tetapi korupsi berjamaah dan dalam skala besar (seperti kasus e-KTP) itu sendiri merupakan model dari optimism bias yang kolektif. Dalam hal ini teori tentang optimism bias memberikan informasi tentang perilaku dasar manusia termasuk para koruptor. Menyaksikan calon gubernur yang berjudi dengan melakukan transaksi sogokan bisa anda bayangkan seperti bagaimana para penjudi bersikap optimis di depan meja judi.

Karena itu menghentikan OTT tidak juga mengurangi bias optimisme penjudi. Masalah Orde Baru mungkin terletak pada fakta bahwa para pencuri uang negara/rakyat merasa aman dan nyaman mencuri dengan risiko yang kecil. Kekecewaan pada OTT yang (akan makin?) sering terjadi dalam tahun politik ini juga bentuk lain dari optimism bias, yakni sebuah pesimisme akibat jarak antara harapan dan kenyataan yang berbeda.

Saya percaya ada efek jera dari OTT. Pembenaran OTT bukan pada kurangnya OTT, tetapi pada fakta bahwa yang bersalah patut dihukum. Tertangkap dan terungkapnya ratusan kasus korupsi lewat OTT sejak Nasaruddin tentu menjadi contoh nyata soal pentingnya OTT. Bahwa kemudian OTT tetap saja terjadi, itu sangat biologis dan akan tetap terjadi karena sistim kognitif otak manusia. Perilaku optimisme koruptor tidak tidak perlu dibenturkan dengan efek jera OTT. OTT membuktikan fenomena dasar manusia itu sendiri yakni optimism bias para penjudi. Sangat berbahaya bila tidak dikoreksi dengan menciptakan resiko yang besar, termasuk hukuman seberat-beratnya dan pemiskinan para koruptor.

Artikel di atas di tulis oleh JA Lassa

Unselfie Project

unselfie

Kualitas empatik masyarakat jaman now makin terdegradasi. Michele Borba mengajak pembaca untuk menanamkan empati sebagai keunggulan karakter yang dapat diajarkan, dikembangkan, dipraktikan dan dihidupi sepenuhnya oleh generasi baru, anak-anak kita. Kemampuan berempati adalah fondasi dalam membantu anak-anak hidup dalam esensi yang lebih utuh: bahwa kita manusia yang memiliki ketakutan dan kepedulian yang sama dan karenanya layak diperlakukan secara bermartabat. Borba Mengatakan bahwa di era yang serba digital ini, kita mungkin telah melahirkan generasi muda yang cerdas dan percaya diri namun di saat yang sama, anak-anak jaman ini adalah generasi yang secara rekor paling self-centered, sekaligus paling sedih dan paling stress.

Membina anak-anak menjadi pembawa damai dalam masyarakat menjadi cita-cita kebanyakan orang tua. Cita-cita membawa damai ini kami bawa dalam nama anak-anak yang selalu tersirat makna “manusia pembawa damai.” Tetapi tidak semua pasangan mempunyai kesiapan sebagai orang tua. Sehingga skill terkait parenting berkembang dengan pendekatan learning by doing. Dan karenanya saya mendapati diri saya perlu belajar Unselfie dan buku di atas sebagai pemandunya.

Ketika membeli  Unselfie di Amazon Book Shop 2017 silam, saya punya imajinasi sendiri karena sub-judul tentang Bagaimana anak-anak yang empatis, sukses dalam dunia yang tua dan muda gandrung selfie – “dunia yang semuanya tentang aku” – Me World. Imaginasi saya sebelum membaca bukunya adalah tentang bagaimana strategi membina anak-anak yang tidak self-centric, gandrung akan wajahnya sendiri. Terus terang, ledakan kebiasaan selfie membuat perut mual. Sulit bagi saya untuk bergaul secara natural dengan orang yang hyper selfie. Saya mengarapkan buku ini menceritakan tentang bagaimana menyembuhkan generasi yang hyper selfie dan Me World.

Harapan saya sedikit meleset. Tetapi saya tidak kecewa karena inti kritik buku ini tetap sama bagaimana menyelamatkan planet ini dengan empati. Tentang bagaimana membuat dunia kita lebih baik, bukan karena utopia yang turun secara magis dari Surga, tetapi karena kita menciptakannya dengan revolusi empati dalam diri generasi yang baru – anak-anak kita.

Bertumbuh besar di Timor Barat, kita terbiasa menyelesaikan perbedaan pendapat  dengan konflik dan kekerasan. Perbedaan pendapat yang kecil membuat perpecahan. Saya teringat waktu pertama kali kami kembali ke Kupang setelah lima tahun dari luar negeri, tepatnya paruh akhir 2012, bungsu kami yang sangat gaul sering bermain bersama anak-anak tetangga di dekat kontrakan kami. Ritual tiap hari yang sering kami nguping pembicaraan anak-anak adalah “Lu mau bakalai deng beta? [kamu mau nantang saya berkelahi?] sering kali dijawab dengan cool tanpa emosi tanpa pride yang terluka dengan “Beta hanya mau bakawan deng lu” [Saya hanya mau berteman dengan kamu]. [Sejak awal, saya sering mendorongnya latihan ilmu bela diri. Bukan karena alasan self-defense semata tetapi untuk belajar konsentrasi dan bagian dari mengolah emosi dalam kelompok].

Setelah lama berorganisasi dan berinteraksi dalam banyak sekali konteks dan tempat, saya mencoba mengingat kembali model interaksi individu dalam kelompok dan bagaimana skill dasar dalam hidup sehari-hari seperti resolusi konflik menjadi sangat penting. Dalam guyonan kami sebagai orang Protestan di Timor, bahwa mentalitas protestan berjiwa separatis. Begitu beda pendapat dalam sebuah komunitas seperti gereja, orang dengan gampang membuat gereja baru, jemaat baru, sekolah baru. Mentalitas yang sulit menghargai struktur dan sistim yang coba dibangun perlahan.

Kembali ke buku UnSelfie, pesan buku ini dapat terlihat dalam daftar isi buku tersebut.

 

  • Pendahuluan: Keunggulan tersebunyi dari empati dan mengapa itu penting bagi anak-anak
  • Bagian 1: Mengembangkan empati.
    • Anak-anak yang empatik, dalam mengenali perasaan: mengajarkan kecerdasan emosional
    • Anak-anak yang empatik memiliki identitas moral: mengembangkan code etis
    • Anak-anak yang empatik memahami kebutuhan orang lain: menanamkan perspektif dan belajar memahami bagaimana berada dalam situasi orang lain.
    • Anak-anak yang empatik memiliki imajinasi moral: membaca demi mengelolah empati
  • Bagian 2: Mempraktekan empati.
    • Anak-anak yang empatik dapat mempertahankan karakter keren mereka: bagaimana mengelolah emosi dan berhasil dalam self-regulation
    • Anak-anak yang empatik mempraktekan kebaikan: kembangkan dan latihan kasih sayang tiap hari
    • Anak-anak yang empatik memikirkan soal “kita” dan bukan “mereka”: mengelolah empati melalui kerja sama team dan kolaborasi
  • Bagian 3: Living empathy.
    • Anak-anak yang empatik kerap mencoba berinisiatif dalam mempromosikan keberanian moral
    • Anak-anak yang empatik ingin membuat perbedaan: bertumbuh sebagai changemakers dan percaya pada kepimimpinan yang altruistik.
  • Epilogue: Keunggulan empati: 7 cara kreatif dalam memberi anak-anak ruang untuk berhasil

Saya merekomendasikan buku setelab 262 halaman ini bagi para guru sekolah dasar dan taman kanak-kanak.

Dalam sebuah diskusi film dengan mantan pacar saya beberapa hari lalu, tanpa sadar si Bungsu kami suka dengan kutipan-kutipan filosofis, menambahkan bahwa “hari ini banyak orang dewasa yang berperilaku ibarat bayi-bayi yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.” [Saya berharap dia tidak mengikuti perkembangan politik di Tanah Air]. Rupanya itu didapat dari dialog dalam persiapan tugas Drama di sekolahnya tentang Emotional Roller Coaster,  manakala gurunya bicara soal sebuah karakter dalam drama.

Lepas dari pesan terkait pentingnya Unselfie dan sentralitas empati dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bersolidaritas sesama manusia dalam jagad yang sepi ini, Unselfie juga wajib dimaknai dalam konteks perjuangan kesederajatan dan kesetaraan dalam banyak dimensi kemanusian. Empati bukan hanya soal masa depan anak-anak. Keselamatan planet ini bergantung pada sikap empati kita pada sesama, pada ekologi, pada kemanusiaan.

Jangan lupa beli atau pinjam bukunya.

Salam

Aktivis 1998 dan Catatan Politik Kepartaian

Mahasiswa-with-tag1

Oleh: Dominggus Elcid Li

Gerakan mahasiswa 1998 menemukan salah satu titik dukanya kemarin. Salah satu pentolannya Andi Arief, tertangkap nyabu. Kalau dilihat dari kacamata hukum negara pemakai narkoba memang kriminal. Tetapi dibanding pembunuh Munir, penculik para aktivis, koruptor triliunan rupiah, kejahatan ini tidak lah besar-besar amat. Apalagi kalau kita paham sindikat narkoba turut berumah dalam “penjara” tanpa mampu disentuh tuntas. (Di kampung saya, Kupang, ratusan peti mati tidak menjadi alasan bagi penegak hukum berbicara atas nama keadilan. Padahal manusia dijual. Bukan hanya Narkoba. Lebih sialan lagi dokumennya saya serahkan sendiri ke tangan Presiden Jkw, dan BAP-nya saja tidak pernah dibuat).

Menjadi orang vokal di Indonesia tidak mudah. Apalagi kritik tandas muncul dari mulut anda. Seluruh ruang teknologi komunikasi pasti bukan lah wilayah steril. Jadi kalau mau nakal macam nyabu dan semacamnya pastikan anda paham risiko.

Foto yang dipakai Kompas cetak hingga foto lain dari media online, yang menunjukkan Andi ada di balik jeruji menegaskan arogansi kekuasaan. Di level mana orang berhak dipermalukan? Apakah jika anak Jakob Oetama bos Kompas atau salah satu keluarga Jokowi jika terkena kasus foto dari angle atas dengan latar depan terali itu bisa dipasang terbuka? Keadilan itu tidak tampak. (Apalagi jika orang paham soal kasus Cebongan sekian tahun silam, dan Jokowi hanya beraksi bersihkan kali bersama Kopassus di Jakarta. Padahal gelombang protes dari NTT begitu kuat. Ya, hukum kita hukum orang kuat. Siapa kuat, kejahatannya didiamkan. Apalagi pakai embel-embel jiwa korsa. Artinya apa? Artinya hukum masih dalam tawanan naluri kuasa.)

Berselancar dalam tubuh Partai Demokrat tidak mudah. Di situ ada Trah SBY-Sarwo Edhie. Andi muncul dengan gaya pendekar mabuk. Prabowo dihantam pakai kardus, dan PDIP pun hendak digrudug. Orang menunggu nahkoda Demokrat hendak diserahkan pada siapa. Setelah Anas dari HMI meringkuk dalam tahanan KPK, kini Andi dari SMID ada dalam tahanan. Pernah muncul harapan, ada generasi 1998 yang bisa muncul di level puncak partai politik. Harapan itu masih lah jauh. Kans Andi mungkin sudah tertutup, setelah Anas.

SBY sebagai jendral tukang baca buku menampung para aktivis seperti Andi yang mungkin dikenalnya ketika ia menjadi Danrem di Jogja di era 1990-an. Sekian aktivis lain masih banyak dalam rombongan Demokrat. Sekian lagi sudah menyingkir. Patah arang. Entah Demokrat pasca SBY akan berujung pada siapa dan apa?

Di PDIP maupun elemen Pro Jokowi, aktivis 98 juga banyak. Pesan mereka memenuhi media sosial jelang pilpres. Ya, tapi sama saja mereka lebih banyak sebagai kru, bukan sebagai tokoh elit partai politik.

Di tubuh PDIP Megawati tentu sedang berpikir panjang bagaimana mempertahankan denyut nadi pasca dia, entah di mana ia akan meletakkan trah Sukarno? Dan di mana ia akan menempatkan anak-anak idiologis. Darah biru politik di negara-negara pasca 1945 bukan hanya milik Indonesia. India, Myanmar dan Pakistan juga sama. Bagaimana mempertahankan format partai PDIP pasca Megawati masih menjadi pertanyaan terbuka.

Selanjutnya, salah satu elemen penting Orde Baru adalah tentara. Hingga saat ini tentara masih lah mempunyai peran vital. Bekas tentara yang bernalar tiba bergantian di posisi puncak. Ada Luhut, ada Prabowo, ada Hendro, ada Moeldoko, ada Gatot, ada Djoko, ada Kivlan, ada banyak lagi. Mereka tumbuh dan besar dalam disiplin tentara. Ada dalam barisan dan garis komando yang tegas. Meskipun di era politik kepartaian warna merah-putih dan hijau menjadi dua kategori pembagi.

Para aktivis 1998 pun tersebar dimana-mana. Sebagai gerakan mahasiswa, tidak ada disiplin tegas semacam tentara. Ikatannya lebih cair. Tahu sama tahu saja. Berhadapan dengan ‘politik tentara’ di era kepartaian, para aktivis 1998 tidak punya koordinasi yang memadai. Di era pemilu presiden pun mereka berantem sendiri, ya beda majikan.

Soal disiplin pribadi, para aktivis 1998 lebih tidak disiplin lagi. Terutama jika dibandingkan tentara. Coba lihat menteri parlente eks aktivis 98, kita pasti sakit kepala. Mode pakaian Prabowo lebih sederhana dari aktivis. Aneh juga, ini rakyatnya melarat tapi dandanan menteri khas pria metroseksual–tapi miskin prestasi. Seolah sudah lupa omongan orasi sendiri.

Ditangkapnya Andi dan Anas adalah catatan untuk para aktivis 1998. Jejak masa lalu saja tidak cukup, tetapi harus tanpa cacat sama sekali. Tidak mudah memang, tetapi ini jalan yang kita pilih.

Kadang dalam diskusi sehari-hari, ada kawan yang bercerita ‘disiplin kita harus sebaik tentara’. Saya katakan ‘Kita lebih baik dari tentara’. Bukannya saya tidak menyenangi TNI atau pun POLRI, tetapi saya tahu rezim tentara di bawah Soeharto pun gagal. Artinya apa? Untuk mempertahankan Indonesia, kedisiplinan kita harus jauh lebih baik dari tentara. Keyakinan ini lah yang harus kita punya dan buat. Disiplin tidak mencuri uang negara, disiplin untuk tidak memperkaya diri sendiri, disiplin untuk menyatakan sesuatu hanya sesuai dengan isi realitas. Tidak lebih.

Untuk mempertahankan Indonesia kita perlu untuk tidak menjadi anjing peliharaan. Mampu untuk mengolah libido dan kegilaan dasar. Serta mampu menjadi bagian dari rakyat tanpa kata-kata: bukan omongan.

Ya biasa saja. Selama disiplin kelompok ini tidak ada, selama itu pula aktivis 98 tidak lebih dari gerombolan bersejarah. Selama itu pula cita-cita generasi 1998 tidak pernah dianggap serius. Berpolitik tidak mungkin zonder disiplin. Terutama di level pribadi.