Home » tips belajar mahasiswa baru

Category Archives: tips belajar mahasiswa baru

Penghancuran Kreatif dan Orisinalitas Warby Parker

DSC03807

Mengapa kacamata dengan disain sederhana dengan material yang tidak kompleks berharga lebih mahal dari smartphone maupun laptop anda gunakan sehari-hari?  Laptop dan smartphones membutuhkan berlapis teknologi sedangkan kacamata teknologinya sudah hampir 900 tahun, tepatnya sejak abad 3 di Italia. Pertanyaan itu muncul ketika David Gilboa antri membeli iPhone disebuah Apple Store.

Pertanyaan itu kemudian menginspirasi tiga teman lain yang sama-sama fresh graduate MBA Wharton School, University of Pennsylvania, yang kemudian bergabung mengikuti program start-up bernama Venture Initiation Program dengan dana awal  $2,500 (Rp. 30 juta) di tahun 2010. Mereka adalah Neil Blumenthal, Andy Hunt and Jeff Raider yang mendirikan Warby Parker. Jangan kuatir kalau anda belum mendengar cerita tentang mereka. Singkatnya, Warby Parker adalah perusahan kacamata yang berdiri tahun 2010 dan menuai sukses besar 6 tahun terakhir. Yang menarik mereka berempat tidak memiliki pengalaman e-commerce, teknologi informasi maupun pengalaman penjualan ritel dan sejenis. Websitenyapun baru siap beberapa jam menjelang peluncuran.

Dengan visi menjual kacamata dengan harga di bawah $100 yakni hanya 20% dari rata-rata harga kacamata di toko mainstream, mereka menuai sukses. Singkat cerita, mereka masuk dalam perusahaan paling innovative tahun 2015 dalam peringkat Fast Company, mengalahkan Google, Samsung, Apple dsb. Saat ini nilai perusahaan mereka mencapai lebih dari 1 milyar dolar.

Latar belakangnya tentu ada. Seperti biasa, mahasiswa MBA banyak yang ngutang alias berhutang. Mencari pengganti kacamata berarti harus hilang $500 (alias Rp. 6.5 jutaan). Salah satu dari mereka (kemungkinan David) punya masalah kacamata. Framenya bahkan diikat dengan paper clip. Mereka bersama melakukan riset. Mencoba mencari tau siapa mendominasi bisnis kacamata. Diketahui kemudian bahwa Luxottica mendominasi bisnis kacamata termasuk memiliki banyak perusahaan dengan nama lain termasuk Oakley mapun Ray-Ban. Riset mereka juga memberi tahu bahwa keuntungan rata-rata per kacamata adalah hampir 20kalinya. Jadi bila kaca mata berharga Rp. 5 juta, kemungkinan harga aslinya hanyalah Rp. 250 ribu. Toh dengan struktur/frame yang seadanya kita bisa dapatkan hanya Rp. 20 ribu khan? Masuk akal!

Mereka paham bahwa hukum/aturan dan sistim diciptakan orang. Sedangkan kebanyakan kita atau sebagian kita bertumbuh tanpa menanyakan status quo. Untuk sukses, kata Adam Grant, orang butuh “kecerdasan jalanan” dan bukan sekedar “kecerdasan buku”. Tentang “kecerdasan buku”, kita punya banyak catatan tentang orang-orang kampus (baca: dosen) yang tidak punya kemampuan melakukan perubahan bahkan ditingkat mengatakan tidak pada sistim kampus yang korup. Bayangkan soal dosen yang tak pernah mampu menjual apapun namun mengajarkan marketing yang tidak menarik hati mahasiswanya. Mengajarkan hal-hal yang sama bertahun-tahun tanpa tahu sebagian hal di luar sana sudah berubah. Masalahnya kampus-kampus sering mencoba mencetak alumni yang hebat dalam menghafal diktat dosen. Murid-murid dan mahasiswa mainstream lebih senang bertumbuh menjadi hewan piaraan dosen-dosen mereka dan tunduk pada semua yang dikatakan. Mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah bertanya bagaimana dosen-dosennya mendapatkan pengetahuannya, tidak mungkin menjadi seorang revolusioner.

Dalam dunia orang tua, siapa yang tidak senang anak-anaknya mampu hitung secepat kalkulator? Siapa tidak bangga anak begitu patuh pada semua yang dikatakan orang tuanya? Siapa tidak bangga anak bermain piano mirip Bethoven? Adam Grant kemudian menambahkan bahwa “pratice makes perfect, but it doesnot make new”. Dan anak-anak patuh tidak mungkin mencitptakan creative destruction! Saya memilih menterjemahkan creative destruction sebagai penghancuran (bukan sekedar kehancuran) kreatif.

Adam Grant adalah pengajar dari ke empat pendiri Warby Parker di atas yang menulis secara jujur bagaimana ketidakyakinannya atas rencana bisnis kacamata online ini yang diusulkan dari ruang kelas setahun sebelum di luncurkan.

Cerita di atas saya ambil dari buku yang saya beli:  Original: How non-confirmist move the world (oleh Adam Grant) dari Amazon Books store di University Village, Seattle. Cerita ini memang menambah koleksi cerita David melawan Goliath yang sering terulang dalam tiap zaman. Salah satu buku yang menarik hati adalah David and Goliath oleh Malcom Gladwell yang saya beli di Kinokuniya Singapore tiga tahun lalu.

Cerita Warby Parker dalam Original di atas hanya salah satu cerita dan puzzle soal bagaimana para kepala batu yang melek riset (informed optimist / informed non-confirmist) mampu melakukan perubahan dan sukses. Buku yang penting di baca oleh mereka yang mau belajar mendirikan start ups di usia muda maupun senja. Sangat di rekomendasikan!

Hukum 100 KPH: Bagaimana menulis disertasi dan tesis tepat waktu?

phd061913s

Pernah mendengar seorang profesor mampu menulis 5000 kata sehari? Tentu ada. Dan untuk hal yang dikuasainya, tidak perlu heran. Yang paling penting tidak perlu minder dan juga memandang rendah diri anda. Tidak perlu menambah beban psikologis pada diri anda. Menulis adalah skill yang akan semakin baik dengan latihan dan disiplin yang mengikutinya.

Ketika menjadi mahasiswa PhD (S3) 10 tahun silam, saya mencari sosok yang bisa memberi inspirasi bagi proses penulisan disertasi saya. Dan Stephen King yang masyur itu memberi panduan yang tidak ada salahnya anda coba. Bahwa ia mengalokasikan waktu 3-4 jam setelah bangun pagi dengan menulis dan akan stop menulis setelah mencapai 2000 kata. Soal Mr King ini, anda tak perlu heran. Stephen King menulis 54 novel sepanjang hidupnya. Bukan sembarang novel karena novel-novelnya super laris dan kerap berakhir di layar lebar. Jadi sejak memulai karirnya 50 tahun lalu, praktis dia menulis 1 buku setahun.

Ketika memulai Tahun 2008, saya bertekad untuk menulis 200-300 kata perhari untuk disertasi saya. Karena untuk PhD kami diharapkan menulis 75000-90000 kata, Bila anda harus menuliskan disertasi 90000 kata untuk waktu 3 tahun, maka rata-rata perhari anda membutuhkan 82 kata. Dibutuhkan hanya 4-5 menit untuk paling lambat untuk mengetik jumlah kata itu. Artinya dengan skenario 250 kata, anda bisa menuliskan 90000 kata setahun atau setara 1 disertasi. Dalam 3 tahun itu berarti anda memiliki potensi produktifitas 3 disertasi.

Bicara hanya 10 menit sehari selama 3 tahun. Secara total, nasib anda lulus atau tidak dari S3 hanya dibutuhkan total 182 jam mengetik. Bila 1 jam menulis membutuhkan proses membaca, meneliti, menganalisis sebanyak 5 jam, anda hanya memerlukan waktu 1100 jam untuk lulus PhD dari total 26280 jam beasiswa anda (hasil dari 3x24x365). Artinya kurang dari 5 persen waktu anda. Yang tidak perlu anda ganggu gugat adalah waktu tidur anda 8 jam sehari atau 8760 jam per tiga tahun. Bila anda naikan menjadi 10 persen saja, mungkin anda harus lulus cum laude.

Tanpa bermaksud meremehkan rekan-rekan yang lain yang menghadapi kesulitan dalam menulis disertasi karena hal-hal non-teknis seperti konflik dengan supervisor dsb. saya sebenarnya mengajak anda yang sementara atau akan studi lanjut untuk berpikir secara teknis perencanaan waktu menulis.

Tentu jangan anda khilaf. Saya bukan mahasiswa yang rajin. Karena malas, maka saya berhitung secara matematis agar bisa lulus. Dan tips Stephen King saya kalikan faktor 10 persen saja dari 2000 kata per hari menjadi 200 kata perhari. Bukan hanya lulus tepat waktu, tetapi saya masih bisa mengurus banyak hal dari menikmati mengantar jemput anak ke sekolah, berlibur, terlibat debat online yang tidak ada ujung pohonnya, mengurus Jurnal NTT Studies, mengkoordinasikan kerja-kerja volunteer dan banyak lagi kerja gratisan dsb. Saya bahkan membuat hal yang tidak patut ditiru: Menulis 150 halaman laporan pada sebuah lembaga PBB di Paris hingga menulis laporan 50 halaman ke sebuah lembaga di Den Haag 2 bulan sebelum deadline disertasi PhD saya.

Kedisiplinan berbasis kemalasan ini juga dilakukan teman-teman seangkatan saya. Seorang teman saya yang saat ini bekerja di Washington DC mampu mengirimkan disertasi final tiga bulan lebih awal dari saya plus sukses dalam publikasi di 8 peer reviewed journal sebagai lead author (penulis pertama). Dalam kelas PhD yang hampir 30-40an orang, memang tidak lebih dari 5 orang yang tamat tepat waktu. Sedangkan teman satu ruangan saya di UNU (yang super disiplin dan mantan kepala BMKG di negaranya) sudah selesai draft disertasinya hanya dalam 24 bulan plus 3 paper di top journal yang tidak ada hubungan dengan PhD disertasinya. Nyami kerja-kerja konsultasi yang dikerjakannya demi menguliahkan anaknya juga dilakukannya.

Tentu soal disertasi bukan hanya menulis tetapi juga penelitian analisis. Tepat! Dan penelitian lapanganpun anda perlu menulis jurnal / catatan harian bukan? Dan proses ini justru memberi anda kesempatan menuliskan hasil wawancara / ataupun observasi dalam tulisan bukan? Bila anda dari ilmu sosial ada kemungkinan setiap harinya anda wajib menuliskan wawancara / observasi anda di atas 2000 kata (bisa kurang bisa lebih).

Tidak perlu stress dalam menghadapi deadline! Tak peduli S1, S2 atau S3. Anda selalu harus menghadapi deadline dalam menulis tugas kuliah. Anda tidak sendirian. Ada ratusan juta orang di dunia berstatus mahasiswa setiap tahunnya.

Dan ini bukan soal pintar tidak pintar. Ini soal pintar-pintar mengelolah waktu dan mengerjakan tugas anda dari perspektif yang lebih strategis dan taktis. Dan “Hukum 250 KPH” (kata per hari) bisa saja menjadi pilihan taktis anda. Bahkan dengan 100 KPHpun anda sebenarnya bisa tepat waktu karena setara 120 ribu kata. Lebih dari yang dibutuhkan untuk ilmu sosial secara umum.

PhD adalah soal menghasilkan pengetahuan baru dan anda diwajibkan berkontribusi pada pengetahuan. Karena itu anda tentu perlu bekerja ekstra tetapi perlu pintar-pintar mengatur mengatur waktu untuk kehidupan keluarga dan sosial yang lebih seimbang.

Sukses untuk studinya.

Salam!

 

 

Bagaimana Menjadi Mahasiswa Yang Sukses?

Salvador Dali, Andorra

Salvador Dali, Andorra [Source; Creative Commons, Terence, Wikipedia]

Saya kuliah di sebuah Universitas Katolik di Kota Kupang. Awalnya tidak terlalu bersemangat karena tidak ada niat kuliah. Sekedar menyenangkan hati mama. Tidak pernah berharap akan menjadi mahasiswa sukses yang 20 tahun kemudian mampu berkarir secara internasional di beberapa negara termasuk saat ini di Australia.

Saat itu awal September 1993. Toko buku Istana Beta letaknya di depan kampus lama di Kelurahan Merdeka Kupang. Saya kosnya di sebuah rumah alang-alang – mungkin satu-satunya rumah beratap alang-alang di Merdeka Kupang saat itu. Jarak rumah kos ke Toko Buku suci hanya 150 meter. Saya mencoba singgah di toko buku tersebut. Dan mata saya langsung kepada sebuah buku berjudul “Management Waktu: Suatu Pedoman Pengelolaan Waktu Yang Efektif dan Produktif”. Penulisnya Harold L Taylor. Covernya warna hitam edisi 1990 yang saya baca. Tahun terbitan bahasa inggrisnya adalah 1981.

Saya tidak ingat lagi persis isinya. Yang diingat adalah buku tersebut saya baca sampai selesai dengan penuh gairah. Mungkin ini buku pertama yang saya baca secara tuntas hanya dalam waktu 2 jam seumur hidup saya. Tipis bukunya. Tetapi itu merupakan langkah awal yang memberikan ‘sense of purpose’ bagi saya. Tentang bagaimana pentingya membagi waktu. Menentukan waktu tidur 7-8 jam sehari. Membaca 3-4 jam sehari. Sisanya mengikuti kuliah, mengunjungi keluarga satu persatu dari keluarga papa dan mama di Kupang sambil makan siang/malam gratis. Tiap weekend mengikuti kegiatan mahasiswa. Sedangkan hari minggu agendanya mengunjungi rekan-rekan eks SMA 1 SoE yang bertebaran di Kota Kupang.

Nah, tulisan saya ini ditujukan buat adik-adik calon mahasiswa baru di Indonesia. Anda termasuk yang beruntung yang tidak lebih dari 700ribu orang (dari lebih kurang 1.4-1.5 juta lulusan SMA) tahun 2015/2016.

Di Indonesia kini lagi musim orientasi mahasiswa baru. Kuliah pertama mungkin akan mulai pada bulan September khan? Di Australia kami baru saja memulai semester baru. Seru bagi semua yang mau belajar serius! Mengapa seru? Ya, seru saja karena waktu akan terasa begitu cepat mengalir dari satu semester ke semester lainnya. Dan anda kemudian akan tiba di titik mana tidak ada kesempatan kembali memperbaiki masa depan anda selain penyesalan atas masa lalu.

Rencanakan Hidup Anda!

Dalam sebuah makan malam 6 bulan lalu di rumah rekan saya dari India, seorang teman bule Australia bertanya kepada kami: apa yang membuat kamu mau menjadi akademik? Bagi teman saya yang dari India, ceritanya tentu indah. Dia adalah juara di kelas nya juga di sekolahnya dan yang terbaik di kota negara bagiannya. Kita tahu kampus-kampus universitas India kelasnya mungkin di atas kelas universitas kita di tanah air. Sangat jarang kita dengar alumni-alumni kita bisa go international bila belum mendapatkan ijazah dari universitas di Barat. Tidak bagi India.  Ribuan ilmuan India bisa bekerja di negara mana saja walaupun tamat hanya dari universitas di negara bagian di India.

Sedangkan saya adalah kebalikannya. Hidup tanpa rencana! Ketiadaan prestasi kadang membuat orang tidak memiliki ambisi. Rangking sebagai prestasi naik turun, tergantung kondisi lingkungan. Dan Masuk jurusanpun karena tetangga yang menyarankan! Bayangkan! Hidup tanpa visi! Tidak selalu buruk. Karena hidup tidak selalu bisa diprediksi. Saya tidak berencana kuliah setelah tidak lulus PMDK ke Universitas Indonesia. Maklum. Nilai raport saya tidak konsisten walau tamat dengan nilai tertinggi. Pendaftaran ke universitaspun 100 persen dilakukan mama karena saya asik camping setelah selesai SMA. Meski kemudian saya kemudian harus kuliah di Timor Barat dengan kondisi kampus yang pas-pasan, tapi bagi kami saat itu, tidak ada pilihan yang lebih baik. Dan bagaimana tidak bersyukur? Tidak banyak yang bisa kuliah. Tidak ada waktu untuk disesali. Hidup di mana pun toh harus kita hidupi secara lebih strategis dan taktis sambil berharap ada peruntungan di tiap saat.

TIPS Sebagai Mahasiswa Baru

Seorang adik bertanya pada saya “Kalau anda ditakdirkan lahir kembali ke bangku kuliah sebagai anak semester 1, apa yang anda akan lakukan?” Pertanyaan ini menjadi menarik. Dua hal yang saya pikirkan.

Saya mencoba meneruskan yang sudah saya lakukan sebelumnya: Pertama, punya sense of purpose: kemana saya akan pergi setelah kuliah S1? Ini tentu penting sekali. Arah hidup lebih penting dari sekedar bolak balik ruang kuliah tiap hari! Karena hari ini bukan soal hari ini. Tapi soal ke mana anda akan pergi? Saya akan membeli buku tentang management waktu dan soal strategi menjadi mahasiswa yang sukses. Punya gaya hidup yang terencana! Kedua, biasakan diri membaca 3-4 jam sehari. Selama SD hingga SMA di pedalaman Timor Barat, kami tidak punya buku bacaan. Praktis tidak banyak yang dibaca selain buku pelajaran. Saat kuliah, sejak semester 1, saya ingat tiap minggu saya bisa menghabiskan 2-3 buku bacaan di luar bacaan wajib anak-anak teknik sipil tempo dulu. Tidak peduli di mana anda kuliah. Toh, kita tak pernah bisa memilih tempat lahir. Bila anda tinggal di pedalaman Flores, Sumba, Timor, Papua hingga Sulawesi dan Kalimantan, tidak perlu tangisi soal hal-hal ini. Saya pembaca setia Majalah Konstruksi yang saat itu di Kupang cukup mahal. Di tempat kuliah saya, ada bundelan Majalah Konstruksi yang cukup menolong anak-anak kampung seperti saya membayangkan teknologi-teknologi terkemuka di tanah jawa saat itu. Tentu anda punya kelebihan hari ini. Dengan internet, anda bisa belajar kalkulus langsung dari MIT dan professor-profesor top. Membayangkan teknologi yang rumit-rumit tidak lagi sepenuhnya harus menunggu lama. Kuliah di kampung, tidak harus membuat kita tertinggal. Ketiga, terus belajar bahasa asing terutama bahasa inggris. Saya termasuk yang cukup laris sewaktu tamat kuliah. Tidak pernah menganggur walaupun sering kali mengundurkan diri dari tempat kerja karena perbedaan prinsip dan diskriminasi alumni. Belajar Bahasa Inggris secara mandiri karena harus berhemat uang saku. Tetapi cerita awalnya tidak mudah.  Dinding kos saya sering kali saya tanduki karena marah, sering melupakan vocabulary yang dihafal hari kemarin. Teman-teman saya yang IPK tidak mentereng sering mendapatkan pekerjaan lebih cepat karena mampu berbahasa asing. Keempat, berorganisasi secara lebih taktis sejak awal. Tanpa pengalaman berorganisasi, kita tidak punya eksposure yang cukup dalam kerja tim dan conflict management dan leadership skill yang sehat. Saya harus membuat analisis yang lebih rasional tentang organisasi mana yang saya harus masuki: termasuk melihat kualitas almunus-alumnus yang bisa memberikan role model bagi saya. Tetapi jangan lama-lama dalam memutuskan karena tidak ada organisasi yang sempurnah!

Sedangkan yang akan saya lakukan adalah: Pertama, membaca buku Soe Hok Gie. Saya sering mencari model mahasiswa ideal saat itu. Yang sering saya dengar adalah cerita-cerita anak-anak di kampus-kampus besar seperti ITB dan Petra. Maklum, dosen-dosen idola kami alumnus kedua kampus tersebut. Tetapi masih sekedar rajin baca dan berbahasa. Sosok Soe Hok Gie saya baca ketika semester 9, saat masa skripsi manakala kuliah sudah hampir selesai. Dalam dirinya, saya temukan sosok demonstran yang intelektual bukan pengekor. Ada gairah bergelora tentang baigaimana membuat dunia kita lebih baik, tentang perubahan sosial. Tentang intelektual yang terlibat dengan persoalan-persoalan sosial kebangsaan. Demonstran yang anti nyontek dan tidak korupsi uang kepanitiaan pembubaran panitia ospek. Betapa menyesal saya menjadi puritanist dalam melihat organisasi sosial. Menghindari para anggota senat yang sering saya pikir tidak layak karena tukang nyontek. Mental pemberontak saya tidak tersalur secara baik dan kemudian tidak terlatih, selain melalui tulisan-tulisan protes. Kedua, saya akan membaca tetraloginya Pramodya Ananta Toer sejak semester 1. Mengapa? Karena dalam Bumi Manusia, ada spirit tentang menjadi berdaulat secara pengetahuan. Minke memiliki visi kedaulatan berpengetahuan. Dan spirit ini yang justru hilang dari kampus-kampus. Tentang bagaimana dosen-dosen hanya menjadi rantai konsumerisme pengetahuan barat tanpa mampu memproduksi sendiri pengetahuan baru dengan harga yang tidak terlalu mahal. Ketiga, saya akan menggantikan ilmu teknik sipil saya dengan jurusan lain: salah satu dari ke empat ini: matematika, fisika, sosiologi dan filsafat. Bukan karena saya tidak mencintai teknik sipil, tetapi karena tidak ada yang menjelaskan soal pentingnya ilmu-ilmu dasar tadi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial. Tetapi bila saya harus tetap di teknik sipil, maka saya akan mencitainya dua kali lebih sungguh. Keempat, mencari duit untuk lebih banyak travel ke luar pulau sejak masih mahasiswa. Visi ini penting! Tanpa melihat dunia yang lain, mungkin kita tidak pernah benar-benar menghargai dunia tempat kita lahir dan bertumbuh.

Sekian dulu ya! Selamat menempuh studi sebagai mahasiswa baru! Sebagaimana ibu dan ayah, Indonesia juga menanti karya mu!

Orang Muda Dalam Jebakan Manusia Dimensi Satu

One Dimensional Man

“Hidup itu sebuah perubahan yang tak terelakan dari muda menuju tua. Masalahnya yang tua menjadi terlalu bijak, makin hati-hati, karenanya, hidup harus terus diulang dan diulangi lagi dalam hidup mereka yang muda, bila kemajuan mau dikejar. Orang muda memang tak tau banyak hal, cenderung latah dan tidak bijaksana. Karenanya, mereka mencoba yang tidak mungkin. Dan sejarah menjadi saksi bahwa mereka sering menggapai ketidakmungkinan. Dari generasi yang satu ke generasi yang lain.” Petikan di atas adalah dialog antara Edith dan Edwin, tokoh dalam The Goddess Abides yang ditulis Pearl S. Buck.

Dan artikel ini adalah sebuah spekulasi soal apakah orang muda dan belum lagi lurus kencingnya dan juga generasi yang akan datang  bisa membebaskan diri dari belenggu-belenggu peradaban kita. Dan apakah pemuda dalam konteks GMIT mampu melihat kekuatan-kekuatan yang mencengkram dan membelenggu yang melilit kaumnya?

Cengkraman Konsumerisme

Kita hidup dalam kontrol konsumerisme yang akut. Sedangkan media-media menjadi sekedar alat reproduksi ignorance yang diulang-ulang setiap hari. Media sosial yang awalnya diharapkan menjadi pemecah kebuntuan atas monopoli informasi tidak serta-merta terjadi. Justru sebaliknya: media sosial menjadi platform yang ramah atas mengalirnya ide-ide dan cara pandang yang mapan.

Kemapanan mendapatkan cakarnya yang jauh lebih tajam di media sosial. Dalam lilitan konsumerisme, dalam kontur sosial ekonomi yang timpang, manusia-manusia yang mempersembahkan hidupnya dari pagi hingga malam hari untuk menghidupi hidupnya tak mampu hidup selayaknya sebagai manusia.

Egalitarianisme masih terasa genit. Ada imajinasi bahwa media sosial adalah sebuah wilayah datar yang setara di mana semua sama-sama berdiri sejajar.  Ilusi soal sebuah daerah main yang sejajar-sedatar cukup membuat kita mabuk dalam momentum-momentum sosial politik – sebut saja pemilu dan pilkadal. Sedangkan momentum-momentum politik kemudian menjadi momentum keterpecahan antar individu hingga skala bangsa.

Di sini kita lihat konflik antar keyakinanpun adalah sekedar konflik antara users/supporters yang fanatis dengan produk-produk impor ditingkat personalised idea/product (keyakinan). Model konflik antara users ini dibawa pada skenario hidup-mati. Dan kelompok-kelompok dan atau lembaga-lembaga yang diharapkan lebih berdaya tahan seperti lembaga-lembaga keagamaan (organised faith) justru terseret dalam arus ekonomi politik tiada akhir. Dalam konteks GMIT, pertanyaannya di mana gereja dan pemudanya? Mengapa koruptor ulung begitu mudah (dan hampir kekal) dipilih jemaat bertahun-tahun dalam ritus politik? Dan mengapa pemuda begitu berharap sumbangan para bajingan politik?

Di dalam realitas mapan yang memegang monopoli atas definisi apa itu realitas, kita banyak bertemu manusia-manusia berdimensi satu, seperti kata Herbert Marcuse. Zombie adalah nama kerennya. Menjadi manusia berdimensi satu adalah bahaya terbesar yang dapat di hasilkan lembaga sosial dan keagamaan. Kompleksitas dunia yang jamak direduksi dengan satu cara pandang. Indonesia yang ragam cenderung didekati dengan pendekatan tunggal.

Dalam pandangan Marcuse, manusia berdimensi satu merupakan hasil produksi sistimatis dari para pengrajin politik (makers of politics) dan para manipulator informasi. “Wacana mereka secara sistimatis diisi oleh hipotesis mereka sendiri (self-validating hypotheses) yang di ulang-ulangi demi menghipnotis masyarakat luas” kata Herbert Marcuse lebih dari setengah abad silam. Fenomena ini dapat dilihat dalam perang media paska Pilpres 2014. Media sekedar menjadi corong para pengrajin politik, bukan publik.

Konsumerisme bukan soal masuk dalam jebakan konsumsi barang semata. Konsumsi ide hingga teologi impor yang masif-homogen membuat manusia menjadi mangsa atas saudaranya sendiri. Rasa enaknya makanan, gayanya pakaian hingga rasa bijaknya teologis, menjadi begitu seragam. Kecerdasan ditentukan olah seberapa hebat kita menghafal ayat dan menerapkan doktrin tunggal.

Kita sama-sama menjadi manusia tawanan. Kita membutuhkan orang muda yang mampu memecah kebuntuan-kebuntuan yang hidup. NTT memiliki jutaan orang muda, tetapi tidak banyak yang mampu berkarya dengan memproduksi sendiri.

Dapatkah kaum muda mengambil peran transformasi sosial dan ekonomi? Dan bagaimana orang muda mampu membebaskan kawanannya dari belenggu konsumerisme global dan belenggu status quo?

Berharap pada yang muda?

Kemudaan memiliki keuntungannya sendiri. Idealnya, kemudaan mengandung ruh risk taking (berani mengambil risiko). Tidak heran banyak orang muda dalam usia dua puluhan melakukan hal-hal yang tidak dibayangkan generasi yang mereka gantikan. Kita perlu risau bila muncul generasi muda yang penakut, takut mencoba, dan memiliki loyalitas pada status quo,dan sekedar menjadi penjaga tradisi dan ritus-ritus yang mungkin saja terkesan indah namun korup.

Pada saat yang sama, bila institusi sosial/keagamaan tidak mampu melahirkan orang muda yang kreatif dan inovatif, kita perlu bertanya, apakah tulang belulang berbalut darah-daging tanpa roh yang bekerja di depan kita? Bila dalam lingkungan anda di dapati ketiadaan generasi muda yang tangkas, imaginatif, gigih dalam soal-soal kemanusiaan dan kebangsaan dan kepekaan sosial dalam arti luas, saya kira gereja (dalam pengertian sempit dan luas) bukan hanya gagal, tetapi mungkin sudah mati.

Bagaimana mempertahankan nilai-nilai solidaritas bersama sebagai sebuah bangsa ditengah gejolak dunia? Dalam konteks Indonesia hari ini, kita tergoda bertanya bagaimana orang muda mampu menjadi ‘pembawa damai’ dan penjaga nilai-nilai hidup bersama di tengah situasi yang gampang tersulut karena semakin ditegaskannya perbedaan-perbedaan sosial paska perhelatan politik yang semakin rutin digelar?

Dan mengapa event politik Jakarta menjadi begitu dekat dengan kaum muda? Sebaliknya, mengapa realitas ketidakadilan dan kesengsaraan hidup manusia (baca: jemaat?) disekitar kita tidak mampu membuat energi mental kita terkuras untuk bergerak melakukan sesuatu? Mengapa begitu mudah di gerakan oleh simbol-simbol ciptaan elit? Tetapi tak mampu tergerak/menggerakan diri terhadap realitas sosial terperi di depan hidung? Mengapa terbangun mental asimetris: mendukung Ahok di layar kaca, tetapi tak mampu menggerakan anti-status quo di realitas di daerah sendiri?

Generasi Milenial Dalam Pusaran Perubahan

Mari kita melihat konteks di mana anak-anak millennial beroperasi dalam kemudaannya. Penduduk dunia bertambah dari hanya 0.5milyar di era reformasi Luther 500 tahun lalu menjadi 7.5 milyar setahun yang lalu. Dua puluh persen (1.5 milyar) dari total penduduk hari ini lahir setelah tahun 2000. Generasi ini sering disebut generasi milenial. Bila definisi orang muda kita persempit pada usia antara 15-24 tahun maka menurut statistik Perserikatan Bangsa Bangsa, ada sekitar 1.2 milyar orang muda. Namun definisi orang muda itu cukup cair tergantung konteks di mana anda berada. Bila definisi orang muda bisa berusia 15-45 tahun dan jumlahnya mungkin mencapai 3  milyar atau hampir setengah penduduk bumi saat ini.

Tujuan artikel ini awalnya adalah soal bagaimana pemuda dapat mengambil peran yang lebih dalam masyarakat maupun bangsa. Namun saya mencoba mengajak orang muda untuk memilkirkan beberapa hal mendasar terkait masa depan bangsa-bangsa maupun planet bumi. Ada empat perubahan besar yang perlu dipahami secara mendesak.

Pertama, perubahan ekonomi global yang kita kenal sebagai globalisasi ekonomi dunia, termasuk di dalamnya pergerakan arus informasi, arus modal dan tenaga kerja global yang menyertai serta pergerakan barang secara bebas dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Institusi formal maupun pasar memandang bahwa pergerakan tenaga kerja akibat globalisasi ekonomi dapat mengentaskan kemisikinan di negara-negara berkembang akibat kiriman uang dari para buruh migran ke negara-negara asalnya. Pergerakan ini memiliki implikasi-implikasi detail yang kita lihat saat ini. Selain cerita indah, tidak kurang kita memiliki cerita miris, termasuk jebakan perdagangan perempuan-perempuan NTT yang mencoba peruntungan.

Kedua, perubahan demografis atau kependudukan secara global. Negara-negara kecil di Afrika seperti Nigeria yang saat ini berpenduduk 175 juta orang akan berpenduduk 440 juta orang sebagaimana diperkirakan oleh PBB. Indonesia akan berpenduduk 366 juta orang di tahun 2050. Kota-kota seperti Kupang akan menampung lebih dari 1.5 juta orang. Perubahan demografis dan ekonomi di atas juga mengakibatkan meningkatnya mobilitas penduduk dunia yang bermanifestasi dalam banyak bentuk: pergerakan penduduk termasuk migrasi penduduk dunia yang lebih dari yang pernah kita lihat. Berdasarkan data World Tourism Organizations yang dirangkum dari 201 negara dalam lima tahun terakhir terlihat bahwa tiap tahun, ada peningkatan jumlah pelancong alias wisatawan internasional berdasarkan data ketibaan. Bila di tahun 1950 dunia hanya memiliki 25 juta pelancong, di tahun 2000 kita memiliki 674 juta pelancong. Lima belas tahun kemudian, kita memiliki 1.2 milyar pelancong. Sebagiannya adalah orang muda. Di 2050, diperkirakan 50 persen penduduk dunia akan jadi pelancong.

Bagaimana pemuda melihat trend pertumbuhan ekonomi global termasuk Indonesia yang masuk dalam catatan di mana pertumbuhan terjadi secara ekslusif alias yang kaya tambah kaya sedangkan yang miskin mungkin tambah miskin? Kita melihat hal ini dengan terang benderang di kota Kupang. Pertubuhan kelas menengah atas bertambah tetapi kalangan miskin berjalan ditempat. Bagaimana pemuda mampu berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja?

Ketiga, Perubahan iklim akibat konsumsi karbon makin tidak terkontrol membuat mitigasi perubahan iklim berjalan ditempat. Perubahan iklim merupakan masalah yang lain yang bertalian dengan tiga hal di atas. Akibat tekanan pada iklim lokal, ada kemungkinan produksi pertanian di pedesaan makin lebih goyah dan tidak stabil. Hal ini kemudian memfasilitasi terjadinya migrasi keluar dari desa-desa yang rentan kekeringan yang kita lihat di berbagai pedalaman NTT termasuk Timor Barat. Hal ini tentu bertalian erat dengan fenomena pelepasan lahan di kampung pada berbagai pada kapitaslis-kapitalis lokal baik dalam wajah pengusaha, aktor-aktor politik, pejabat-pejabat maupun aktivis LSM. Ditingkat lokal, kita bertanya bagaimana orang bisa hidup dengan lahan yang makin kecil. Ditingkat global, kita bertanya bagaimana memberi makan 10 milyar orang setelah tahun 2050an?

Keempat, revolusi teknologi informasi dan transportasi dalam skala yang berbeda. Perubahan teknologi internet dan media social dalam kehidupan manusia di awal abad 21 ini berjalan lebih cepat dari kemampuan kita memahami konsekuensinya.

Seringkali kita malas namun terus menghibur diri bahwa “tidak ada yang baru dalam matahari.” Saya melihat adalah celah dalam pemahaman soal generasi milenial saat ini. Sebelum bicara soal apa yang harus orang muda lalukan dalam hidupnya, mungkin kita perlu tanyakan hal yang lebih mendasar: sejauh mana masyarakat maupun gereja mamahami orang muda? Informasi apa yang dipakai dalam memahami generasi milenial saat ini? Apakah ada agenda sistimatis terkait upaya memahami orang muda hari ini di era digital – milenial ini?

Bagaimana mencegah pemuda menjadi manusia berdimensi satu? Bila kita harus menjelaskan peran apa yang perlu diambil pemuda hari ini, maka yang perlu ditegaskan adalah: Ditengah-tengah pusaran berbagai perubahan di atas bagaimana orang muda tetap kokoh dalam membangun agenda-agenda yang penting dalam menciptakan berbagai perubahan-perubahan yang perlu. Misalkan, bagaimana pemuda gereja berkontribusi dalam pengurangan ketidakadilan di berbagai level dan aras: akses pada lapangan kerja, kesetaraan gender, keadilan ekologis, ekonomis dan kesenjangan sosial.

Ditingkat yang lebih praktis mungkin lebih sulit diukur karena hambatan status quo – yakni  ‘bisnis model’ atau model pengelolaan jemaat muda yang berjalan sebagai alat pelengkap penderita. Bagaimana mungkin mengelolah orang-orang muda tanpa ada sumber daya yang jelas? Bagaimana kondisi sekolah-sekolah kita di kampung-kampung? Bagaimana memberi jawaban atas persoalan-persoalan praktis dan strategis nan kompleks sedangkan kita tidak tau apa pertanyaannya?

Saya memang meminjam cara pandang Herbert Marcuse yang terkenal dengan bukunya One Dimensional Man, sambil berutopia bahwa masa depan kita masih mungkin bisa dibentuk ulang dengan semangat yang lebih menghargai perbedaan-perbedaan. Jangan kuatir, pemahaman saya tentang utopia bukanlah versi renta. Utopis yang emansipatoris adalah proyek penciptaan ruang mental yang empowering (menguatkan) –  yang perlu diciptakan untuk melihat yang tidak mungkin menjadi sesuatu mungkin di masa depan. Dan karenanya kami berharap pada orang muda untuk melakukan tugas tranformasi sosial.

Selamat Hari Kemerdekaan RI 72

*Tulisan ini dipersembahkan kepada Majalah GMIT Edisi Augustus 2017.