Home » tips for PhD

Category Archives: tips for PhD

Hukum 100 KPH: Bagaimana menulis disertasi dan tesis tepat waktu?

phd061913s

Pernah mendengar seorang profesor mampu menulis 5000 kata sehari? Tentu ada. Dan untuk hal yang dikuasainya, tidak perlu heran. Yang paling penting tidak perlu minder dan juga memandang rendah diri anda. Tidak perlu menambah beban psikologis pada diri anda. Menulis adalah skill yang akan semakin baik dengan latihan dan disiplin yang mengikutinya.

Ketika menjadi mahasiswa PhD (S3) 10 tahun silam, saya mencari sosok yang bisa memberi inspirasi bagi proses penulisan disertasi saya. Dan Stephen King yang masyur itu memberi panduan yang tidak ada salahnya anda coba. Bahwa ia mengalokasikan waktu 3-4 jam setelah bangun pagi dengan menulis dan akan stop menulis setelah mencapai 2000 kata. Soal Mr King ini, anda tak perlu heran. Stephen King menulis 54 novel sepanjang hidupnya. Bukan sembarang novel karena novel-novelnya super laris dan kerap berakhir di layar lebar. Jadi sejak memulai karirnya 50 tahun lalu, praktis dia menulis 1 buku setahun.

Ketika memulai Tahun 2008, saya bertekad untuk menulis 200-300 kata perhari untuk disertasi saya. Karena untuk PhD kami diharapkan menulis 75000-90000 kata, Bila anda harus menuliskan disertasi 90000 kata untuk waktu 3 tahun, maka rata-rata perhari anda membutuhkan 82 kata. Dibutuhkan hanya 4-5 menit untuk paling lambat untuk mengetik jumlah kata itu. Artinya dengan skenario 250 kata, anda bisa menuliskan 90000 kata setahun atau setara 1 disertasi. Dalam 3 tahun itu berarti anda memiliki potensi produktifitas 3 disertasi.

Bicara hanya 10 menit sehari selama 3 tahun. Secara total, nasib anda lulus atau tidak dari S3 hanya dibutuhkan total 182 jam mengetik. Bila 1 jam menulis membutuhkan proses membaca, meneliti, menganalisis sebanyak 5 jam, anda hanya memerlukan waktu 1100 jam untuk lulus PhD dari total 26280 jam beasiswa anda (hasil dari 3x24x365). Artinya kurang dari 5 persen waktu anda. Yang tidak perlu anda ganggu gugat adalah waktu tidur anda 8 jam sehari atau 8760 jam per tiga tahun. Bila anda naikan menjadi 10 persen saja, mungkin anda harus lulus cum laude.

Tanpa bermaksud meremehkan rekan-rekan yang lain yang menghadapi kesulitan dalam menulis disertasi karena hal-hal non-teknis seperti konflik dengan supervisor dsb. saya sebenarnya mengajak anda yang sementara atau akan studi lanjut untuk berpikir secara teknis perencanaan waktu menulis.

Tentu jangan anda khilaf. Saya bukan mahasiswa yang rajin. Karena malas, maka saya berhitung secara matematis agar bisa lulus. Dan tips Stephen King saya kalikan faktor 10 persen saja dari 2000 kata per hari menjadi 200 kata perhari. Bukan hanya lulus tepat waktu, tetapi saya masih bisa mengurus banyak hal dari menikmati mengantar jemput anak ke sekolah, berlibur, terlibat debat online yang tidak ada ujung pohonnya, mengurus Jurnal NTT Studies, mengkoordinasikan kerja-kerja volunteer dan banyak lagi kerja gratisan dsb. Saya bahkan membuat hal yang tidak patut ditiru: Menulis 150 halaman laporan pada sebuah lembaga PBB di Paris hingga menulis laporan 50 halaman ke sebuah lembaga di Den Haag 2 bulan sebelum deadline disertasi PhD saya.

Kedisiplinan berbasis kemalasan ini juga dilakukan teman-teman seangkatan saya. Seorang teman saya yang saat ini bekerja di Washington DC mampu mengirimkan disertasi final tiga bulan lebih awal dari saya plus sukses dalam publikasi di 8 peer reviewed journal sebagai lead author (penulis pertama). Dalam kelas PhD yang hampir 30-40an orang, memang tidak lebih dari 5 orang yang tamat tepat waktu. Sedangkan teman satu ruangan saya di UNU (yang super disiplin dan mantan kepala BMKG di negaranya) sudah selesai draft disertasinya hanya dalam 24 bulan plus 3 paper di top journal yang tidak ada hubungan dengan PhD disertasinya. Nyami kerja-kerja konsultasi yang dikerjakannya demi menguliahkan anaknya juga dilakukannya.

Tentu soal disertasi bukan hanya menulis tetapi juga penelitian analisis. Tepat! Dan penelitian lapanganpun anda perlu menulis jurnal / catatan harian bukan? Dan proses ini justru memberi anda kesempatan menuliskan hasil wawancara / ataupun observasi dalam tulisan bukan? Bila anda dari ilmu sosial ada kemungkinan setiap harinya anda wajib menuliskan wawancara / observasi anda di atas 2000 kata (bisa kurang bisa lebih).

Tidak perlu stress dalam menghadapi deadline! Tak peduli S1, S2 atau S3. Anda selalu harus menghadapi deadline dalam menulis tugas kuliah. Anda tidak sendirian. Ada ratusan juta orang di dunia berstatus mahasiswa setiap tahunnya.

Dan ini bukan soal pintar tidak pintar. Ini soal pintar-pintar mengelolah waktu dan mengerjakan tugas anda dari perspektif yang lebih strategis dan taktis. Dan “Hukum 250 KPH” (kata per hari) bisa saja menjadi pilihan taktis anda. Bahkan dengan 100 KPHpun anda sebenarnya bisa tepat waktu karena setara 120 ribu kata. Lebih dari yang dibutuhkan untuk ilmu sosial secara umum.

PhD adalah soal menghasilkan pengetahuan baru dan anda diwajibkan berkontribusi pada pengetahuan. Karena itu anda tentu perlu bekerja ekstra tetapi perlu pintar-pintar mengatur mengatur waktu untuk kehidupan keluarga dan sosial yang lebih seimbang.

Sukses untuk studinya.

Salam!

 

 

Tips Mencari Pembimbing / Promotor PhD di luar negeri

Tips Mencari Pembimbing / Promotor PhD di luar negeri

Tips Mencari Pembimbing / Promotor PhD di luar negeri

Oleh JA Lassa

Sinopsis [tulisan pertama]: Mana yang anda pilih? memilih PhD promotor/supervisor yang sangat terkenal dan setengah dewa? Atau memilih supervisor yang masih muda, ambisius dan mau bertumbuh bersama dengan anda? Artikel ini membahas untung rugi dua pilihan ini serta strategi tentang bagaimana mencari pembimbing yang tepat.

Pernah bermimpi melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral alias S3 di luar negeri? Mengapa tidak anda coba-coba untuk bermimpi. Tak perlu hemat dalam bermimpi. Atau, anda tidak pernah bermimpi menjadi doktor setelah menempuh S2? Jangan kuatir anda tidak sendirian! Saya tentu pernah tidak mampu bermimpi soal S3 kecuali setelah dua semester terakhir S1 di Kupang dulu. Tetapi mimpi itu pun tidak selalu final di tiap waktu.  Setelah menempuh S2 di UK 2005 (Beasiswa Chevening) dan sering terekspos dengan para senior di kampus, dan mendapati mereka bukan sekeramat yang dikira, saya pikir ada gunanya mencoba. Toh, “Hidup adalah rangkaian percobaan, biarkan nasib menjadi penentunya” (Eka Kurniawan dalam “O”). Atau bila anda tidak percaya pada obsolutisme takdir, maka biarkan semesta langit bumi dan penciptanya yang menjadi penentu di atas percobaan anda.

Tiga hal utama tentang bagaimana memilih/memulai pendidikan doktor adalah pertama, anda mesti memiliki panggilan untuk berbakti pada pengetahuan dengan melahirkan pengetahuan baru. Idealnya harus ada sesuatu kebaruan, ada celah dalam pengetahuan yang setelah anda teropongi, anda terpanggil dan secara aktif berkontribusi  menutupi celah ilmu tersebut. Kedua, anda wajib mencari tempat alias lingkungan (rumah) yang tepat. Apakah universitas bersangkutan memiliki program pengembangan kapasitas yang baik buat mahasiswa doktor? Karena soal perjalanan riset doktoral bukan semata menulis tesis, tetapi tentang kesempatan membangun dan mengembangkan diri. Ketiga, mencari calon pembimbing atau promotor yang tepat.

Hal pertama di atas adalah wajib, namun terkadang menemukan celah bisa ilmu bisa dilakukan dengan bergabung pada proyek-proyek riset doktoral yang sudah diidentifikasi dan sedang call for applicants (lihat contoh di UK). Bila anda melamar sebuah posisi PhD yang diiklankan dengan topik yang sudah ditentukan, maka supervisor anda kemungkinan besar adalah pimpinan proyek atau profesor yang memimpin riset tersebut. Model proyek PhD begini biasanya lebih jelas. Tetapi tidak berarti lebih mudah.

Langkah kedua di atas bisa anda lakukan riset online tentang jurusan dan bidang kajian spesifik yang anda minati yang tersedia di bawah kolong langit ini. Misalkan, bila anda mencari pembimbing studi bencana, maka ada sekitar 50an universitas di dunia yang menawarkan berbagai program pascasarjana berbasis riset. Proses ini harus mengerucut pada short listing program/topik riset S3 yang anda minati pada universitas-universitas di atas. Anda juga perlu mencari profil para pengajar/profesornya. Tentu yang menjadi daya tarik adalah dua-duanya: dosen/profesor yang mengajar/meneliti maupun reputasi jurusan/universitasnya.

Bila langkah pertama (topik riset) sudah mantap, anda perlu investasi waktu menuliskan secara ringkas tujuan riset anda, pertanyaan penelitian yang ‘sexy’ (bisa yang belum pernah diajukan sebelumnya atau bisa pada potensi menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yang bernilai jutaan dolar (million dollar questions).

Langkah kedua di atas bisa di abaikan bila anda mampu mendapatkan calon pembimbing/promotor bagi anda. Di Jerman, anda bisa mengikuti/diterima di program doktoral sebuah universitas / pusat riset lalu universitas yang menjadi mak comlang untuk mempertemukan anda dengan pembimbing utama anda. Model PhD seperti ini punya risiko: anda tidak bisa memprediksikan supervisor macam apa yang anda pilih. Tugas anda jelas tidak mudah untuk membuat si pembimbing terkesan dengan kerja anda selain kerja kerja keras yang estra tetapi juga smart.

Model yang lain tentu bisa ditempuh, tergantung konteks. Yang lumrah adalah anda mengontak dan mendapatkan calon supervisor yang bersedia membimbing anda, lalu anda melamar secara formal di universitas host tempat supervisor tersebut mencari makan. Dalam proses melamar, tentu anda perlu mencantumkan secara jelas calon supervisor sehingga memudahkan administrasi di universitas tujuan untuk tidak secara acak tetapi menunjuk calon supervisor yang sudah membangun jalur komunikasi (in)formal dengan anda.

Hidup adalah soal memilih. Tidak mudah untuk semua hal. Anda mau memilih universitas dengan ranking dan reputasi tinggi dengan profesor yang juga setengah dewa? Sangat mungkin anda mendapati dua atau lebih bakal calon pembimbing dalam sebuah universitas. Bila anda sudah jelas pada short listed universitas dan calon pembimbing, bagaimana anda memutuskan si Profesor A atau si Dr B?

PhD adalah soal perjalanan melewati lembah gelap. Kompas anda adalah pertanyaan penelitian anda. Arah lebih penting dari gerak. Anda membutuhkan peta, team pendukung dan petuah. Karena itu wajib supervisor anda bisa bekerja sama secara  profesional sekaligus bersahabat sepanjang perjalanan melewati lembah tersebut.

Tetapi soal arah, bagi saya bukan sekedar kompas kecil (pertanyaan penelitian) yang membantu anda menemukan ‘utara yang sejati” dari penelitian anda. Seharusnya ini juga soal “utara yang sejati” dari masa depan anda – memenuhi tujuan hidup anda setelah PhD: apakah anda terpanggil menjadi akademisi? Bila ya, di mana anda bermimpi menjadi akademisi? Karena modal PhD tidak cukup untuk masa depan anda.

Sebagai contoh. Saya memiliki dua teman yang mengambil PhD di sebuah negara tempat saya bekerja saat ini. Sebutlah si X, sejak awal memang memilih universitas Top Tier (Kelas 1), dan juga seorang pembimbing setengah dewa (profesor yang masyur) dengan seabrek prestasi dan puluhan buku. Model memilih seperti ini model yang lumrah. Jujur saja, siapa yang tidak suka memiliki almamater mumpuni? Masyarakat awam akan terpukau.

Sedangkan si Y, memilih universitas Second Tier (Kelas 2) dengan pembimbing yang masih berstatus sebagai dosen senior dan masih muda namun juga ilmuan prospektif. Di negera tempat saya bekerja, dosen senior dengan “research active” status itu setara  assistant profesor level senior.

Si X memilih menjadi birokrat di kementrian. Hampir tidak memiliki publikasi peer review journal. Anda tentu bertanya: apa artinya Harvard atau MIT bila karya hanya sejilid tesis dan selembar ijazah? Boleh-boleh saja. Tetapi tidak sesedarhana itu. Sedangkan Si Y, kemudian tamat dengan belasan paper termasuk beberapa peer review articles. Hal ini kemudian mengantarkan si Y ke level post-doctoral bergengsi dan kemudian membawanya pada posisi akademik selevel assisten profesor.

Saya pribadi pernah mengalami situasi yang kira-kira berada di antara dua situasi di atas. Pembimbing saya adalah profesor yang masyur, wakil rektor, yang jarang berada di kantor. Makluk setengah dewa. Yang tidak terlalu termotivasi untuk publikasi bersama. Sebuah paper baru mirip menambah garam pada air laut yang sudah asin. Situasi ini saya sadari. Saya harus berjuang sendiri untuk publikasi, walau tidak banyak karena harus juga hidup sebagai social entrepreuner dengan agenda yang bukan melulu akademis.

Saya mendapati beberapa rekan saya dengan pembimbing yang lebih muda dan memiliki semangat kerja team yang baik cukup sukses dalam membangun publikasi secara bersama. Tidak heran salah seorang rekan saya seangkatan berlabuh dan bekerja di sebuah think tank top di kota Washington. Bisa anda bayangkan, PhD tiga tahun tepat waktu dan 10 peer review paper di tangan dan sering menjadi lead author! Siapa yang tidak tertarik mempekerjakan young PhD fellow seperti ini?

Tentu saja dua model di atas bukanlah binari model. Ada varian lain dari soal model pilihan pembimbing dan aspirasi dan visi mahasiswa PhD bersangkutan. Sebagai misal, beberapa mengambil model bekerja dalam proyek-proyek akademis sambil menulis PhD. Model yang lain mahasiswa PhD yang hanya fokus pada menulis tesis secara cepat dan berambisi selesai 2 tahun lebih sedikit (Tanya: mengapa harus cepat-cepat?). Salah satu senior saya dengan inisial RJK adalah model yang lebih ekstrim: butuh sepuluh 10 tahun untuk menulis sebuah tesis yang hanya 50 halaman. Tetapi semuanya adalah ringkasan dari 40 peer reviewed papernya tak terhitung belasan laporan riset yang diikutinya dalam sepuluh tahun tersebut. Dan hanya membutuhkan 1-2 tahun menjadi profesor riset penuh setelah PhDnya.

Pertanyaan tidak berhenti di sana. Misalkan, ada yang bertanya: “Saya diterima di Europe/Jerman, Australia dan juga di USA. Ke mana saya harus pergi?” Hal ini tidak mudah di jawab. Dan akan saya coba jelaskan di blog post berikutnya.

Bila anda bermimpi menjadi social entrepreuner atau menjalankan sebuah think tank di kota anda setelah PhD, tentu saja ada banyak hal lain selain tulis paper, di bawah ketiak profesor yang terkenal dan bersekolah di universitas top. Toh, di akhir cerita, ini adalah soal ke mana anda ingin pergi setelah PhD? Namun mungkin yang paling hakiki adalah, untuk apa PhD? Untuk apa investasi sebesar Rp. 2-3M hanya untuk sekedar gelar dari universitas bergengsi?

Bila anda bermimpi menjadi akademisi yang berkontribusi pada perubahan sosial, dan berkontribusi pada pembangunan wacana alternatif dalam public space di propinsi atau kota anda, mungkin anda tidak harus bertanya soal perlu tidaknya PhD. Karena di atas semuanya, soal perjalanan ke PhD adalah soal panggilan pribadi dengan tanggung jawab pribadi. Tiap pilihan selalu ada konsekuensi.