Indosasters

Home » Posts tagged 'health policy'

Tag Archives: health policy

The Science of Sleep – Ya, Ilmu Lelap [1]

Why we sleep

Pernah anda mendengar istilah konyol sepert ini: karena semua orang yang beragama belajar tentang pencipta yang transenden, lalu mereka semua punya semacam baseline pengetahuan teologi dan karenanya dianggap sebagai ‘teolog’? Ya, saya pernah juga konyol. Not a big deal? ya. Mungkin aja. Tapi tulisan ini soal bobo, soal lelap, pentingnya nyenyak dan tidur.

Maaf ya. Karena semua kita pernah tidur dan selalu akan tidur dan perlu tidur,  tetapi itu tidak membuat kita semua jadi specialist atau tepatnya ahli soal tidur, soal apa itu tidur lelap alias bobo. Hanya karena anda akan menghabiskan sekitar 116800 jam dalam 40 tahun hidup anda, itu tidak berarti anda paham soal tidur. Kecuali anda seorang Matthew Walker – the Diplomat of Sleep alias diplomat lelap – yang menulis buku yang perlu anda baca atau anda adalah seorang brain scientists atau dokter.

The Science of Sleep oleh Walker dan mengapa kita kita tidur penting menjadi sebuah pengetahuan umum yang perlu kita tahu. Ilmunya berkembang seiring dengan perkembangan brain science alias ilmu otak.

***

Suatu hari di bulan Mei tahun 1993. Malam kedua menuju hari ketiga ujian akhir nasional level SMA. Sebagaimana biasa, teman-teman belajar sistim kebut semalam di SMA 1 SoE, Ulu Klau (kini menetap di Malaysia) dan Rifat Maromon (dosen Arsitek Undana) menegak kopi yang dicampur dengan garam. Dampak eksperimen itu mengakibatkan saya tidak bisa tidur malam itu. Sekitar hanya sejam lelapnya. Kami tidak paham kalau kebiasaan bila berulang itu bisa membunuh dan atau merusak banyak organ maupun fungsi organ dalam tubuh dari jantung, ginjal hingga otak.

Sewaktu studi teknik sipil di Unika Kupang, saya Sekitar 1993/1998, kami sering mengulang kebiasaan itu. Kebanggan semu mahasiswa teknik yang seolah bergadang sebagai sebuah tanda mahasiswa teknik sejati. Sounds familiar?

Sebagai Civil Engineer level Supervisor di Rekayasa Industri,  era 1999/2000, kami bangun pabrik semen termasuk struktur seperti silo, cement packer serta berbagai tempat untuk mechanical. Setiap kali mengecor fondasi beton raksasa ataupun struktur beton seperti silo, berhari-hari kami harus mengurangi jatah tidur karena gantian supervisi kontraktor yang terkadang nakal soal kualitas.

Semasa studi PhD kebiasaan ini diulangi lagi. Dan sebagaimana biasa, seperti saya, walaupun studi tentang management risiko bencana, para calon ilmuan hanya berkutat dengan disiplinnya sendiri. Akibatnya kemudian berpotensi fatal. Ada tipikal mahasiswa PhD kemudian kurang tidur, kurang olah raga, diet yang kurang sehat dan overweight. Tidak heran, tidak sedikit yang kemudian kena diabetes, darah tinggi, dan beberapa dampak ikutan lainnya. Beberapa teman saya kemudian kena stroke, bahkan ada yang meninggal di usia muda.

****

Ya, tentang tidur dan mengapa perlu tidur, kita perlu teropong ilmu pengetahuan. Kita perlu tidur minimal 7-9 jam. Salah satu komitmen saya dalam tahun-tahun ke depan adalah meningkatkan jumlah jam tidur dari rata-rata 7.5 jam ke 9 jam per hari.

Kekurangan tidur akan menurunkan kinerja anda mulai dari berpikir, hingga kinerja pribadi lainya: kemampuan pengambilan keputusan yang rasional, menurunnya daya ingat, kontrol emosi, gangguan keseimbangan seks dan produksi testosteron, menurunnya daya tahan tubuh dan sebagainya. Dalam bentuk yang paling buruk, dampaknya adalah kematian.

Katakanlah anda mau hidup sehat hingga umur 80 tahun atau setara 700800 jam. Minimal anda harus tidur sebanyak 233600 dengan rata-rata harian 8 jam. Tanpa ini, anda sulit menikmati sisa jam ketika anda terbangun.

***

Berikut beberapa daftar tips untuk bisa lelap secara berkualitas:

  • Rencanakan jadwal tidur – jadwalkan secara rutin sebisa mungkin: tidur dan bangun dalam waktu yang sama. Usahakan tidak ada gangguan soal ini, kecuali harus travel antar negara dalam jarak jauh.
  • Tidak menggunakan alarm karena dapat mengakibatkan stress sebagai aksi kaget bangun
  • Kenali dan tetapkan siklus sirkadian anda: circadian rhythm adalah siklus 24 jam dalam proses fisik biologis makluk hidup, yakni sebuah pola yang secara inheren diproduksi tubuh dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti cahaya maupun suhu.
  • Hindari kafein atau nikotin sebisa mungkin. Bagi yang sensitif, sebaiknya tidak minum kopi di sore hari karena tubuh butuh 10 jam untuk menggeluarkan pengaruh kafein secara total.
  • Berolah raga tetapi tidak dalam 3 jam sebelum tidur.
  • Jangan tidur setelah jam 3 petang karena akan kesulitan tidur di malam hari.
  • Jangan minum alkohol kecuali dapat dimetabolisme tubuh waktu tidur
  • Hindari makan dan minum tengah malam. Buang air tengah malam mengakibatkan disrupsi waktu tidur.
  • Kurangi cahaya sebelum tidur karena cahaya menunda proses ritme circadian anda.

Bersambung………!

 

Being Mortal – Memilih Terminal Terakhir

9781846685828-e1507450842580.jpg

Kita memang tidak pernah memilih tempat lahir! Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita lahir. Bagi yang melahirkan maupun yang dilahirkan sama-sama seperti menang lotre ataupun kalah judi. Yang membuat semuanya lebih baik adalah cinta. Dan artikel ini memang bukan tentang cinta. Tetapi tentang terminal terakhir hidup anda: di mana anda ingin hidup anda berakhir? Rumah sakit? atau rumah sendiri? Setidaknya tentang pilihan ini, kita bisa sebisa mungkin melawan takdir – bukan soal harus matinya, tetapi soal memilih mati di mana.

Membaca Atul Gawande dalam Being Mortal – Medicine and What Matters in the End, membawa kita bertanya soal the geographies of dying dan pelembagaan fase sekarat dalam hidup manusia. Membayangkan evolusi pelembagaan kematian dan proses-prosesnya. Dari tradisi ratapan dengan paduan tangisan ala Mollo di Timor, hingga proses ritual yang mirip dengan jejeran orang-orang antri menuju terminal akhir dari hidup ini. Buku ini wajib di baca mahasiswa kedokteran.

Entah mengapa, terminal itu bernama rumah sakit. Di sana, tiga elemen utama bekerja: kedokteran/medis, teknologi dan gerombolan orang asing. Dan karenanya, dalam banyak hal, rumah sakit atau nursing home berbeda tipis dengan penjara! Setidaknya Eving Goffman, Sosiolog Kanada, suatu ketika melihat kombinasi ketiga elemen di atas sebagai sebuah fenomena ‘total institution’ – yang saya coba definisikan sebagai sebuah fenomena di mana manusia di putus hubungannya dengan komunitas sosialnya, setidaknya untuk sementara waktu atau dalam sisa waktunya, hidup dalam sebuah dunia buatan yang menjadi sangat formal transaksional – administratif, terasing tanpa kehangatan sosial.

Seperti kebanyakan kita salah mengira, paman saya juga pernah berpikir bahwa orang jaman pra kemerdekaan dulu, manusia hidup lebih lama dari jaman kita. Saya lalu mengklarifikasikan secara sopan bahwa secara rata-rata, jaman kita memang hidup lebih panjang. Sulit membayangkan orang-orang jaman dulu hidup dan mampu menyetir hingga umur 80an. Hari ini, baik profesor pembimbing saya hingga ayah kandung saya masih mampu menyetir ratusan kilo meter di umur 70an. Di Australia dan Europe dengan mudah kita melihat orang-orang menyetir hingga akhir 80an.

Memilih di mana kita akan mati ini bukan sekedar sebuah pilihan yang terkonstruksi secara sosial. Tetapi menjadi topik kebijakan publik yang tidak banyak di ajarkan di kampus termasuk ilmu kedokteran. Orang Kanada pada suatu waktu memilih untuk mati bersahaja di rumah sendiri. Di Australia, pertanyaan ini sering di ajukan dan kebijakan publik belum terlalu berfokus pada diskusi yang lebih dalam. Sebagian besar orang Australia memilih meninggal di rumah sendiri, pemerintah berpikir sebaliknya: rumah sakit. Tahun anggaran 2011/2012, pemerintah mengeluarkan A$ 2.4 miliar untuk hospital care bagi mereka yang sedang berbaris menuju titik akhir.

Atul Gawande mengulas fenomena yang serupa terjadi di Amerika Serikat. Hingga tahun 1945, mayoritas meninggal di rumah sendiri. Di tahun 1980, hanya 17 persen orang meninggal di rumah. Sisanya di rumah sakit. Jangan mengaku anda seorang dokter yang berwawasan bila belum membaca buku yang informatif ini. Bukan sekedar promosi soal pentingnya palliative care, tetapi tentang kedokteran dan kehidupan itu sendiri.

Buku ini menarik karena sebagai seorang dokter, Gawande berkonsultasi dengan banyak disiplin baik kebijakan publik, sosiologi hingga filsafat. Tidak heran buku ini menjadi best seller.

Yang memiliki orang tua di atas umur 65 tahun, buku ini penting bagi anda. Tentu dilema soal karir, anak-anak, dan mandat sosial menjaga orang tua hingga hari terakhir bukan hal mudah. Dalam banyak hal, transisi sosial di mana para orang tua dari hidup bersama keluarga besar yang kami saksikan di banyak tempat di Asia perlahan-lahan akan berganti pada transisi pada tempat tinggal khusus para senior. Teman sekantor saya barusan membagikan pengalaman di mana ibunya menjual rumah lalu pindah ke properti khusus lansia. Sebuah proses yang sulit karena keduanya hidup bersama dalam waktu yang sangat lama. Sebuah keputusan yang tidak mudah bagi ke dua belah pihak.

Bagi mereka yang mau mempersiapkan diri menuju ketuaan buku ini membantu anda melihat perubahan-perubahan anda, termasuk defisit-defisit natural dari penglihatan (mata) hingga gigi, kestabilan kaki menopang tubuh anda hingga defisit memori anda. Yang utama adalah soal keberanian menghadapi fase akhir dari hidup anda sebagai manusia.

Seorang rekan saya barusan berujar bahwa dia bertekad untuk suatu hari nanti tidak meninggal di rumah sakit. Ia barusan menjadi Budhist. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sempat memiliki rekan-rekan budhist di Singapura yang gagah berani melihat kematian sebagai sebuah proses transformasi yang normal. Dia mengamini bahwa mindful dying adalah agenda hidup yang juga ia pelajari dari gurunya di Nepal. Dia menambahkan bahwa “barat membuat kematian sebagai sesuatu yang menakutkan”. Saya menyarankannya membaca buku ini. Juga untuk anda.

Tetapi soal buku di atas, ia juga berbicara soal bagaimana menjadi manusia dalam segala kesahajaannya menghadapi fase terakhir dalam secara lebih manusiawi. Tidak harus terkungkung dalam tradisi perawatan kedokteran yang menjadi mesin dan institusi yang dingin. Hal yang dalam banyak hal tidak dipahami dokter-dokter jaman sekarang – setidaknya menurut si penulis buku.