Jonatan A. Lassa

Home » Political Ecology of Disasters » Manajemen Risiko Bencana dan Sekolah

Manajemen Risiko Bencana dan Sekolah

Artikel Lingkungan Hidup – Opini Kompas 7 November 2007

Jonatan Lassa

“Children will be one day the mayors, the architects and the decision makers of the world of tomorrow. If we teach them what they can do from the early age they will build a safer world.” – Salvano Briceño Director, UN/ISDR Secretariat

Hari Reduksi Risiko Bencana dunia jatuh tanggal 10 Oktober 2007.

Tradisi merayakan hari reduksi bencana dunia yang jatuh tiap Rabu minggu kedua Oktober setiap tahun ditetapkan melalui Resolusi 44/236 (22 Desember 1989) dan yang ditegaskan ulang dalam Resolusi 56/195 (21 Desember 2001) Sidang Umum PBB sebagai kendaraan yang mempromosikan budaya penanganan bencana secara ex-ante, yakni sekumpulan aktivitas pra-bencana, seperti reduksi risiko bencana, budaya pencegahan dan mitigasi bencana, serta kesiapsiagaan terhadap bencana.

Tema yang diusung dalam tahun 2006-2007 berturut-turut adalah “Menuju Budaya Preventif: Reduksi Risiko Bencana Dimulai dari Sekolah” yang dikoordinasikan United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN/ISDR).

Argumentasi dasar dari tema yang dipilih adalah bahwa sekolah merupakan tempat menabur nilai kolektif budaya pencegahan dan sadar bencana, karena itu pengarusutamaan reduksi risiko bencana (RRB) dalam kurikulum sekolah adalah penting dan mempromosikan gedung sekolah yang lebih aman terhadap bencana. Slogan inspiratif UN/ISDR dalam information kit-nya adalah “Biarkan Anak-anak Mengajari Kita”.

Tradisi Hari Bencana Dunia

Ada baiknya kita melihat kembali tema-tema risiko lima tahun terakhir sebagai upaya singkat menelusuri pola pikir yang menjadi bernas penanganan bencana awal abad ke-21.

Tahun 2005 tema Hari Bencana Dunia adalah relasi microfinance sebagai upaya mereduksi kemiskinan dan kerentanan yang berkontribusi pada reduksi risiko bencana dunia. Tahun 2005 oleh PBB juga dinyatakan sebagai “The Year of Microfinance”. Kampanye ini kelihatannya memiliki determinasi dalam menentukan pemenang Nobel Perdamaian 2006 dengan sang master microfinance Dr Yunus dari Banglades.

Tahun 2004, tema Hari Bencana Dunia adalah “Belajar dari Bencana (disaster) Masa Lalu dalam Menghadapi Ancaman (hazards) Hari Esok”. Dikomunikasikan secara tegas oleh UN/ISDR bahwa gempa, topan, banjir, letusan vulkanik, dan berbagai ancaman alam merupakan bagian dari keniscayaan hidup manusia dalam alam yang dinamis. Yang bisa dilakukan adalah menurunkan derajat kerentanan terhadap peristiwa-peristiwa alam tersebut. Laporan “Hidup Bersama Risiko Bencana” memperkuat pesan bahwa manusia tidak bisa free from floods, tetapi niscaya living with floods.

Tahun 2003 adalah turning the tide on disasters towards sustainable development. Tema ini berelasi erat dengan ditetapkannya tahun itu sebagai The International Year of Freshwater. Pesannya sangat relevan dengan peristiwa banjir tahun sebelumnya di Indonesia serta di berbagai belahan dunia, seperti China dan Asia Selatan, yakni bahwa “tugas kita adalah tidak serta-merta melestarikan sumber daya air, tetapi juga mereduksi kapasitas air dalam membinasakan hidup manusia (dalam bentuk banjir, longsor, siklon dan sebagainya yang terus berulang)”.

Kurang air (kekeringan) bisa menyebabkan bencana, sedangkan kelebihan air (banjir, longsor, siklon) dapat menyebabkan bencana. Oleh karena itu, rezim pengelolaan air tidak hanya sibuk seputar pengadaan dan konservasi air, tetapi juga wajib mereduksi dampak risiko dari ancaman berbasis air dan iklim.

Dalam pernyataannya, Kofi Annan (08/10/2003) mengatakan, ancaman alam (natural hazards) adalah bagian dari hidup. Namun, ancaman berupa banjir, gempa, dan sebagainya baru menjadi bencana ketika hidup dan penghidupan manusia menjadi hilang dan/atau rusak. Dalam momen yang sama pada tahun 2001, Sekretaris Jenderal PBB mengatakan, “Alam akan terus menantang kita.” Tetapi, adalah dalam kekuasaan manusia (baca: politik) untuk memastikan bahwa kemiskinan tidak membalikkan kejadian alam menjadi risiko bencana yang tidak terkelola.

Mengapa anak-anak?

Fokus tema Hari Bencana Dunia 2007 yang dipertahankan sama dengan 2006 sudah didesain sejak awal. Optimisme melahirkan generasi yang sadar akan risiko bencana tidak bisa diserahkan kepada para orang tua yang mendominasi kepemimpinan politik saat ini. Yang tua telah hanyut dalam budaya reaktif: menunggu bencana baru bertindak.

Karena dipercaya bahwa investasi di sekolah (sumber daya manusia, yakni anak sekolah dasar dan bangunan sekolah yang adaptif bencana) akan memberikan hasil jangka panjang, di mana lahirnya para wali kota, desainer, perencana, arsitek, dan pembuat kebijakan masa depan yang lebih aman terhadap bencana.

Optimisme ini perlu didukung. Kanak-kanak dan anak-anak SD bahkan disarankan sejak dini melatih imajinasi penanganan bencana melalui game (permainan). UN/ISDR sudah merilis versi online disaster game (www.stopdisastersgame.org) yang mudah-mudahan bisa diakses anak-anak di Indonesia dalam versi playstation atau PC games dalam waktu dekat.

Jonatan Lassa PhD Research in Disaster Governance, Center for Development Research (ZEF), University of Bonn, Germany


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: